Keberadaannya bukan sekadar mengganggu tampilan rumah, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan penghuni.
World Health Organization (WHO) lewat terbitannya yang berjudul WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Dampness and Mould tahun 2009, menjelaskan bahwa kondisi bangunan yang lembap dan berjamur berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan, alergi, serta asma.
Lantas, bagaimana cara mencegah kemunculan black mold menjelang musim hujan?
Muncul saat Hujan
Jamur membutuhkan kelembapan dan sumber nutrisi untuk tumbuh. Ketika musim hujan tiba, kondisi rumah yang sering terkena rembesan air, kebocoran atap, atau memiliki sirkulasi udara buruk dapat menjadi lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur.
Jamur dapat berkembang pada berbagai permukaan, seperti dinding, plafon, kayu, karpet, kertas, hingga furnitur berbahan kain.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jamur dapat tumbuh ketika spora yang berada di udara menempel pada permukaan yang memiliki kelembapan berlebih.
Karena itu, area kamar mandi, dapur, gudang, sudut ruangan, dan bagian belakang lemari perlu mendapatkan perhatian lebih selama musim hujan.
Kenali Cirinya
Black mold umumnya dikenali melalui bercak berwarna hitam atau kehijauan yang muncul pada permukaan lembap. Selain perubahan warna, pertumbuhan jamur juga sering disertai aroma apek atau bau tanah yang menyengat.
Namun, tidak semua jamur berwarna hitam merupakan jenis Stachybotrys chartarum yang sering disebut sebagai black mold beracun.
CDC menjelaskan bahwa warna jamur tidak dapat digunakan untuk menentukan tingkat bahayanya. Artinya, jamur dengan warna hitam belum tentu lebih berbahaya dibandingkan jamur berwarna lain.
Memicu Gangguan Pernapasan
Keberadaan jamur di dalam rumah tidak boleh dianggap sebagai masalah kebersihan semata. Spora dan komponen jamur yang tersebar di udara dapat memicu reaksi kesehatan pada sebagian orang.
CDC menyebutkan bahwa paparan lingkungan berjamur dapat menyebabkan hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, mengi, mata terasa perih, hingga ruam kulit.
Sebelum intensitas hujan meningkat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko pertumbuhan jamur.
- Periksa atap dan dinding. Pastikan tidak ada kebocoran, retakan, atau rembesan air yang dapat membuat permukaan rumah terus lembap.
- Perbaiki ventilasi. Pastikan udara dapat mengalir dengan baik, terutama di kamar mandi, dapur, dan ruangan yang jarang dibuka.
- Jauhkan furnitur dari dinding. Berikan sedikit jarak antara lemari atau tempat tidur dan tembok agar sirkulasi udara tidak terhambat.
- Keringkan barang yang basah. Jangan membiarkan karpet, pakaian, kasur, dan perabotan dalam kondisi lembap terlalu lama.
- Periksa sudut tersembunyi. Bersihkan dan periksa bagian belakang lemari, bawah wastafel, sudut plafon, serta area dekat jendela.
CDC juga merekomendasikan agar kelembapan relatif di dalam rumah dijaga tidak lebih dari 50 persen. Penggunaan dehumidifier atau pendingin ruangan dapat membantu mengendalikan kelembapan.
Jika Sudah Terlanjur
Jika menemukan bercak jamur, jangan hanya menutupinya menggunakan cat atau pewangi ruangan. Sumber kelembapan harus diperbaiki terlebih dahulu agar jamur tidak kembali tumbuh.
Untuk permukaan keras, jamur dapat dibersihkan menggunakan air dan sabun atau produk pembersih yang sesuai. Gunakan sarung tangan dan pelindung pernapasan ketika melakukan pembersihan.
Gunakan respirator minimal N95 saat membersihkan jamur. Orang dengan asma, penyakit paru kronis, alergi jamur, atau gangguan sistem kekebalan tubuh sebaiknya tidak melakukan pembersihan sendiri.
Selain itu, jangan mencampurkan cairan pemutih dengan amonia atau bahan pembersih lainnya karena dapat menghasilkan gas berbahaya.
Jika jamur menyebar luas, muncul kembali, atau berasal dari kerusakan bangunan yang sulit dijangkau, pertimbangkan menggunakan jasa profesional