Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar melaksanakan ziarah ke makam Paus Fransiskus yang berada di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, pada Senin (27/10/2025) pukul 09.00 waktu setempat.
Ia didampingi oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Tahta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono.
Kunjungan ini dilakukan di sela-sela kehadiran Menag dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian yang diadakan oleh Komunitas Sant’ Egidio, acara yang juga dihadiri Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla.
Dalam kunjungannya ke Basilika Santa Maria Maggiore, Menag Nasaruddin memperoleh izin khusus untuk mendekat langsung ke makam Paus Fransiskus sebuah kehormatan yang bahkan jarang diberikan kepada para kardinal.
Ia juga diperkenankan meletakkan rosario berwarna biru-hijau di pusara sang Paus.
Saya sangat terharu, bersama Pak Dubes diperbolehkan mendekat dan bahkan mengusap makam beliau,” ucap Menag Nasaruddin dengan suara bergetar, dikutip dari keterangan resmi KBRI Vatikan.
Sementara itu, para peziarah lain hanya bisa berdiri sejauh dua meter dari makam sederhana bertuliskan “Franciscus”, tanpa hiasan mewah selain sebuah salib kecil yang menjadi simbol kesahajaan sang Paus.
Persahabatan Melampaui Iman
Hubungan Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar dikenal sangat akrab dan sarat makna spiritual. Persahabatan mereka melampaui batas agama dan diplomasi, berlandaskan komitmen bersama untuk perdamaian lintas iman.
Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin pernah menerima kunjungan Paus Fransiskus pada 5 September 2024. Dalam kesempatan itu, keduanya menandatangani Deklarasi Istiqlal dokumen bersejarah yang menyerukan persaudaraan antarumat beragama dan perdamaian dunia.
Deklarasi ini menjadi kelanjutan dari Dokumen Abu Dhabi 2019, yang ditandatangani Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb, sebagai simbol kerja sama global antaragama.
Saya bahagia berada di masjid terbesar di Asia bersama Anda semua. aya menyapa Imam Besar dan berterima kasih atas kata-kata hangatnya.”
Terowongan Silaturahim: Simbol Kasih dan Persaudaraan
Kunjungan Paus Fransiskus ke Terowongan Silaturahim, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, menjadi simbol nyata persatuan antar umat beriman di Indonesia.
Tugas kita adalah membantu semua orang melewati terowongan menuju terang,” pesan Paus Fransiskus saat itu.
Gagasan pembangunan terowongan tersebut berasal dari Nasaruddin Umar, yang ingin menunjukkan bahwa dua rumah ibadah besar bisa saling terhubung dalam damai dan cinta kasih.
Ziarah ke Basilika Santo Petrus
Usai berziarah di Santa Maria Maggiore, Menag Nasaruddin melanjutkan kunjungan ke Basilika Santo Petrus di Vatikan gereja paling ikonik dan bersejarah bagi umat Katolik di seluruh dunia.
Basilika ini dibangun pertama kali pada abad ke-4 oleh Kaisar Konstantinus, kemudian direnovasi pada tahun 1506 di bawah arahan Paus Julius II dengan melibatkan seniman besar seperti Michelangelo, Rafael, dan Bernini.
Di tengah ribuan peziarah Tahun Yubelium, Nasaruddin tampak mengagumi keindahan arsitektur dan makna spiritual basilika tersebut, sementara Dubes Michael Trias Kuncahyono menjelaskan sejarah dan filosofi bangunan itu.
Pesan Perdamaian dari Roma
Kunjungan Menag Nasaruddin Umar ke makam Paus Fransiskus menjadi simbol kuat persahabatan lintas agama yang telah terjalin lama antara Indonesia dan Vatikan.
Melalui ziarah ini, ia menegaskan kembali pesan kasih, kemanusiaan, dan persaudaraan global nilai-nilai yang terus ia suarakan di berbagai forum internasional.


