Ketegangan diplomatik antara China dan Jepang kembali meningkat setelah Beijing secara terbuka menilai, bahwa Jepang tidak layak menjadi anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Kritik keras ini muncul sebagai respons atas pernyataan provokatif Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait isu Taiwan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan, posisi negaranya dalam konferensi pers belum lama ini.
Negara seperti ini tidak berada pada posisi yang tepat untuk memikul tanggung jawab menjaga perdamaian dan keamanan internasional, dan jelas tidak pantas menjadi anggota tetap Dewan Keamanan,”
ujar Mao Ning.
China Sindir Riwayat Perang Jepang
Mao Ning menekankan, bahwa menurut Piagam PBB, Dewan Keamanan memiliki mandat utama menjaga stabilitas global. Namun ia menyebut sejarah kelam Jepang pada Perang Dunia II sebagai alasan mengapa negara tersebut tak cocok menduduki kursi tetap.
Menurutnya, Jepang masih belum sepenuhnya menunjukkan penyesalan atas agresi masa lalu yang menyebabkan penderitaan besar bagi negara-negara Asia.
Ia menuding sejumlah pejabat Jepang termasuk PM Takaichi, masih kerap menunjukkan sikap yang dianggap “memutarbalikkan sejarah,” salah satunya melalui kunjungan ke Kuil Yasukuni, tempat di mana 14 penjahat perang kelas A turut diabadikan.
Pernyataan Soal Taiwan Picu Kemarahan China
Puncak ketegangan terjadi ketika Takaichi menyebut bahwa serangan bersenjata terhadap Taiwan dapat menjadi alasan Jepang mengerahkan pasukan berdasarkan doktrin pertahanan kolektif.
Beijing menilai pernyataan tersebut sebagai intervensi terang-terangan terhadap urusan internal China. Seruan serupa sebelumnya juga disampaikan oleh perwakilan China untuk PBB, Fu Chong, dalam sidang Majelis Umum ke-80. Ia menegaskan Jepang “sangat tidak memenuhi syarat” menjadi anggota tetap DK PBB.
Reformasi Dewan Keamanan Masih Jadi Perdebatan
Saat ini, kursi tetap DK PBB ditempati lima negara: China, Rusia, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Perdebatan soal reformasi untuk menambah anggota tetap sudah berlangsung lama, namun tidak pernah mencapai titik temu.
Setelah Beijing mendesak Takaichi mencabut pernyataannya dan permintaan itu tidak diindahkan, hubungan kedua negara kian meruncing. Bahkan, Konsul Jenderal China di Osaka, Xue Jian, mengunggah komentar bernada ancaman terhadap PM Jepang tersebut.
Ketegangan ini memicu sejumlah langkah balasan dari China, mulai dari pelarangan penerbangan ke Jepang hingga blokade terhadap tayangan anime Jepang. Situasi diplomatik kedua negara kini berada dalam titik panas yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

