Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS, pada Minggu, 11 Januari 2026, mengklaim jumlah korban tewas akibat protes massal di Iran mencapai 538 orang.
Padahal di sisi lain, pemerintah Iran belum memberikan data dan informasi resmi terkait jumlah korban jiwa selama protes yang sedang berlangsung.
HRANA mengatakan telah mengkonfirmasi kematian 490 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan. Sementara itu, setidaknya 10.600 orang telah ditangkap.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu malam, bahwa tampaknya Iran telah melanggar garis merah pemerintahan dan militer AS memiliki pilihan yang kuat untuk bertindak.
Kita akan mengambil keputusan,”
kata Trump.
Presiden AS itu juga telah berulang kali memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekerasan untuk menekan protes.
Iran sedang menantikan KEBEBASAN, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!,”
tulis Trump melalui media sosialnya.
Menurut seorang pejabat AS, presiden akan diberi pengarahan pada 13 Januari mendatang untuk meninjau kemungkinan tanggapan AS terhadap situasi di Iran.
Sementara itu, rekaman video yang diambil oleh warga setempat dan diunggah ke media sosial, tampak menunjukkan ribuan orang berdemonstrasi di Lapangan Punak, Teheran, pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, meskipun ada upaya dari pasukan keamanan pemerintah untuk membubarkan massa.
Melansir dari ABC News, Senin, 12 Januari 2026, di tempat lain, video menunjukkan kerumunan besar berkumpul di kota Mashhad. HRANA menyatakan, dalam pembaruan hari Sabtu bahwa mereka telah mencatat 574 lokasi protes di 185 kota dan seluruh 31 provinsi di negara tersebut.
Hari Sabtu menandai hari ke-14 protes,”
kata HRANA.
Lebih jauh, pemerintah Iran belum merilis statistik terperinci tentang korban jiwa di antara para demonstran. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara melaporkan pada hari Minggu, bahwa 109 personel keamanan telah tewas dalam protes tersebut.
HRANA dan kelompok hak asasi manusia lainnya melaporkan pemadaman internet yang meluas dan berkelanjutan di seluruh negeri seiring dengan menyebarnya protes. Kelompok pemantau daring NetBlocks mengatakan pada Minggu pagi, bahwa “pemadaman internet” Iran telah melampaui 60 jam.
Aksi protes juga telah menyebar ke seluruh negeri sejak akhir Desember. Pawai pertama berlangsung di pusat kota Teheran, dengan para peserta berdemonstrasi menentang inflasi yang meningkat dan jatuhnya nilai mata uang nasional Iran yakni rial.
Seiring meluasnya protes, beberapa di antaranya mengambil nada yang lebih eksplisit anti-pemerintah, dengan beberapa demonstran meneriakkan slogan-slogan termasuk “mahasiswa, jadilah suara rakyatmu,” dan “matilah Republik Islam.”
