Kota Gaza masih bergulat dengan krisis kekurangan air yang serius, meskipun pasokan utama dari Israel ke Jalur Gaza baru-baru ini kembali dibuka.
Kondisi tersebut diungkapkan oleh badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin 9 Februari 2026.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan bahwa mitra-mitra mereka di sektor air, kebersihan, dan sanitasi masih melaporkan minimnya ketersediaan air minum serta air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga.
Situasi ini terjadi meskipun jalur pasokan Mekorot dari Israel telah kembali beroperasi.
Distribusi Air Belum Menjangkau Seluruh Wilayah
OCHA mencatat, hanya sekitar 6.000 meter kubik air per hari yang berhasil sampai ke masyarakat Gaza City.
Jumlah tersebut masih jauh dari cukup, terlebih karena terjadi kehilangan volume air yang besar di kawasan-kawasan yang sulit dijangkau distribusi.
Kondisi geografis dan infrastruktur yang rusak menjadi faktor utama terhambatnya penyaluran air secara merata.
Produksi Air dan Distribusi Truk
Untuk menutup kekurangan pasokan, OCHA bersama para mitranya meningkatkan langkah-langkah darurat di lapangan.
Untuk mengatasi kekurangan ini, kami bersama para mitra telah meningkatkan produksi air dan menyalurkan pengiriman melalui truk dari sumur-sumur air tanah dan instalasi desalinasi sektor swasta,”
papar OCHA seperti dilansir Xinhua.
Bantuan Kemanusiaan
Selain air, OCHA juga melaporkan distribusi besar-besaran berbagai kebutuhan dasar bagi warga Gaza sejak akhir bulan lalu.
Sejak akhir bulan lalu, para mitra kami telah mendistribusikan lebih dari 100.000 jeriken air, 700.000 lebih batang sabun, dan lebih dari 25.000 paket kebersihan, 400 lebih jamban untuk rumah tangga, serta 250 paket obat kutu di seluruh Gaza,”
ujar OCHA.
Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak krisis air dan mencegah risiko kesehatan di tengah kondisi kemanusiaan yang masih memburuk.

