Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyatakan, kondisi keamanan dalam negeri tetap terkendali pasca-pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Kendati demikian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan seluruh jajaran untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Hingga saat ini, situasi keamanan dalam negeri tetap terkendali. Belum ditemukan peningkatan signifikan aksi teror yang terkonfirmasi sebagai dampak langsung dari konflik tersebut,”
ujar Juru Bicara Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, saat dikonfirmasi Owrite.id, Kamis, 5 Maret 2026.
Secara teoritis, Mayndra menjelaskan bahwa setiap konflik geopolitik internasional berpotensi menjadi faktor pemicu (trigger factor) bagi kelompok radikal. Konflik tersebut seringkali dimanfaatkan untuk memperkuat propaganda, rekrutmen, hingga memicu aksi teror.
Narasi yang biasa muncul meliputi solidaritas ideologis hingga sentimen terhadap kelompok tertentu. Ini bisa berkembang dari sekadar simpati di media sosial hingga potensi kekerasan nyata oleh jaringan teror,”
jelasnya.
Menindaklanjuti arahan Kapolri, Densus 88 telah mengambil langkah antisipasi melalui deteksi dini dan penguatan intelijen terhadap aktivitas ekstremis. Polisi juga memetakan tokoh-tokoh dan simpatisan yang dinilai berpotensi mengeksploitasi isu geopolitik tersebut.






