Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz menanggapi insiden pemboman mematikan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran bagian selatan.
Dalam pernyataannya, Waltz menyebut serangan yang menimbulkan korban sipil tersebut dapat saja terjadi sebagai kesalahan tragis dalam operasi militer, tanpa secara langsung menyalahkan pihak tertentu.
Dalam wawancara dengan ABC News yang ditayangkan pada Minggu 8 Maret 2026, Waltz menegaskan bahwa Amerika Serikat selalu berupaya meminimalkan dampak terhadap warga sipil dalam setiap operasi militer.
Meski demikian, ia mengakui bahwa dalam situasi konflik bersenjata, kesalahan tragis tetap bisa terjadi.
Amerika Serikat melakukan segala yang bisa untuk menghindari korban sipil. Namun terkadang, tentu saja, kesalahan tragis bisa terjadi,”
katanya kepada ABC News dalam wawancara yang ditayangkan, MInggu 8 Maret 2026.
Hasil Penyelidikan Diserahkan kepada Peneliti
Saat ditanya mengenai laporan investigasi dari The New York Times yang menyebut Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan tersebut, Waltz tidak memberikan konfirmasi langsung.
Ia menegaskan bahwa penentuan pihak yang bertanggung jawab sebaiknya diserahkan kepada para penyelidik yang sedang menelusuri insiden tersebut.
Sebuah sekolah dasar khusus perempuan di Minab, wilayah Iran selatan, dilaporkan menjadi sasaran serangan pada hari pertama operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan pelajar.
Iran Sebut 171 Siswi Tewas dalam Serangan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa sebanyak 171 siswi sekolah meninggal dunia akibat pengeboman tersebut. Pemerintah Iran menuduh serangan itu dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Namun pernyataan berbeda disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada Sabtu (7/3), Trump mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang ia lihat, serangan tersebut justru dilakukan oleh pihak Iran. Berdasarkan hal-hal yang ia saksikan, Trump menyebut “hal tersebut dilakukan oleh Iran”.

