Kedutaan Besar AS di Arab Saudi, pada hari Kamis, 19 Maret 2026, mendesak warga Amerika untuk meninggalkan Riyadh dengan alasan eskalasi yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Dalam peringatan keamanan yang diposting melalui X, kedutaan mengatakan bahwa mereka memantau dengan cermat situasi di Timur Tengah dan memberikan pembaruan untuk membantu warga AS membuat keputusan yang tepat tentang keselamatan mereka.
Kami mendorong warga AS untuk meninggalkan Arab Saudi melalui penerbangan komersial jika Anda dapat melakukannya dengan aman,”
kata Kedubes AS, dikutip dari Middle East Monitor, Jumat 20 Maret 2026.
Pernyataan tersebut mencatat bahwa wilayah udara Saudi tetap terbuka dengan pembatasan lalu lintas udara yang sering dilakukan untuk mengatasi ancaman rudal dan drone yang terus berlanjut dari Iran.
Bandara Riyadh, Jeddah, dan Dammam tetap buka dan beroperasi, tetapi para pelancong disarankan untuk memeriksa status penerbangan mereka langsung dengan maskapai penerbangan karena kemungkinan penundaan dan pembatalan,”
tambahnya.
Bagi mereka yang memilih untuk tetap berada di Arab Saudi, kedutaan mendesak agar mematuhi panduan dari sistem peringatan dini Kerajaan, sambil memperingatkan bahwa sistem tersebut tidak selalu dapat diandalkan dalam memberikan peringatan tepat waktu.
Dijetahui, eskalasi regional terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran pun telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

