Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam kepada NATO karena dinilai tidak memberikan dukungan kepada Washington dalam konflik dengan Iran. Pernyataan ini memicu ketegangan baru antara AS dan aliansi pertahanan tersebut, sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di antara negara-negara sekutu.
Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap negara-negara anggota NATO yang tidak merespons ajakan Amerika Serikat untuk membantu dalam konflik. Trump bahkan menyebut NATO sebagai “macan kertas” yang tidak ditakuti oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Dengar, kami mendatangi NATO. Saya tidak memintanya dengan terlalu mendesak, saya hanya mengatakan, ‘Hei, jika kalian ingin membantu, itu bagus sekali’. Tidak, tidak, tidak, kami tidak akan membantu,”
ungkap Trump seperti dilansir dari AFP.
Kritik Juga Ditujukan ke Sekutu Non-NATO
Selain NATO, Trump juga menyoroti sikap negara-negara sekutu di luar aliansi tersebut, seperti Korea Selatan, Australia, dan Jepang, yang dinilai tidak memberikan dukungan dalam konflik Iran.
Sebaliknya, ia justru memberikan apresiasi kepada negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab atas dukungan mereka selama konflik berlangsung.
Di tengah kritik terhadap NATO, Trump kembali mengungkap ambisinya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Denmark, salah satu anggota NATO. Keinginan ini sebelumnya telah menuai penolakan keras dari negara-negara sekutu.
Trump secara terbuka mengaitkan ketidakharmonisannya dengan NATO dengan penolakan terhadap rencana pengambilalihan Greenland.
Semuanya bermula dari, jika Anda ingin tahu kebenarannya, Greenland. Kami menginginkan Greenland. Mereka tidak mau memberikannya kepada kami. Dan saya pun berkata, ‘selamat tinggal’,”
papar Trump.
Upaya Diplomasi Tetap Berjalan
Meski situasi memanas, upaya diplomasi tetap dilakukan. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dijadwalkan mengunjungi Washington dalam waktu dekat. Dalam kunjungan tersebut, Rutte akan bertemu langsung dengan Trump, didampingi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Pernyataan Trump ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di tengah konflik Iran. Perbedaan sikap antar sekutu berpotensi memengaruhi stabilitas aliansi internasional ke depan.
Jika ketegangan ini terus berlanjut, hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya bisa semakin renggang. Situasi ini juga berpotensi memengaruhi dinamika keamanan global dalam jangka panjang.


