Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan kepada Majelis Umum PBB, pada Rabu, 23 September 2026, bahwa Teheran tidak akan pernah menundukkan kepala dan bertekuk lutut di hadapan ancaman Amerika Serikat (AS), tetapi tetap terbuka untuk diplomasi.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Republik Islam tersebut.
Pemimpin AS itu harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,”
kata Pezeshkian, dikutip dari Middle East Eye, Kamis, 24 September 2026.
Sebut Israel dan AS Buat Kekacauan

Diketahui, Israel dan AS telah menyerang Iran pada Februari lalu di tengah negosiasi mengenai program nuklir Teheran. Perang tersebut telah berlarut-larut, dengan dua gencatan senjata yang gagal, serta menyeret negara-negara Teluk Arab, Yaman, dan Lebanon ke dalam konflik.
Pezeshkian mengawali pidatonya sambil memegang foto Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, yang dibunuh pada 28 Februari dalam serangan pembuka gabungan AS-Israel.
Ia juga memperlihatkan foto-foto anak-anak Iran yang tewas akibat serangan udara AS, serta makam mereka. Serangan AS terhadap sebuah sekolah dasar di Minab menewaskan sedikitnya 150 orang, termasuk sekitar 120 anak-anak.
Misi pencarian fakta PBB mengatakan awal bulan ini bahwa ada alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa serangan tersebut merupakan kejahatan perang.
Pezeshkian kembali menegaskan penolakan Iran terhadap klaim lama AS bahwa Teheran mensponsori terorisme.
Mereka yang merupakan teroris, dan yang melatih serta melindungi teroris, menyebut kami sebagai teroris. Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris. Amerika dan Israel menyerang kami. Selama dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang wilayah atau negara mana pun. Sekarang, kami dicap sebagai teroris,”
ujarnya.
Tuduh Iran Kembangkan Senjata Nuklir

Di lain sisi, AS telah mengemukakan beberapa alasan untuk perang melawan Iran. Pemerintahan Trump mengklaim bahwa Teheran hampir mengembangkan senjata nuklir, meskipun sebelumnya membanggakan diri telah menghancurkan program nuklir Iran dalam serangan pada Juni 2025.
Pezeshkian pun menegaskan klaim Teheran bahwa Iran tidak berupaya memiliki senjata nuklir, tetapi tidak akan meninggalkan program nuklir sipilnya.
Iran tidak menerima teknologi nuklir berada di bawah kendali eksklusif sebagian orang. Kami tidak akan menundukkan kepala dan menyerahkan hak yang secara inheren menjadi milik kami. Kami menyatakannya dengan jelas: tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai,”
tuturnya.
Pezeshkian pun menuduh AS dan Israel munafik karena berupaya membatasi program nuklir Iran, sementara membiarkan Israel mempertahankan persenjataan nuklirnya. Meski demikian, Israel tidak mengakui memiliki senjata nuklir, tetapi secara luas dipahami memilikinya.
Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, tetapi para inspektur diminta untuk datang ke Iran. Senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur berada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran dikenai sanksi. Mereka membunuh. Kita dikenai sanksi. Kita dihukum,”
imbuhnya.






