Otoritas Cheyenna menemukan adanya bakteri langka yang berpotensi membahayakan di sekitar 3 juta liter limbah dari proyek pusat data Meta di Wyoming, Amerika Serikat (AS).
Ini terjadi setelah otoritas Cheyenne melakukan pengujian rutin terhadap air limbah yang dibuang rutin dari fasilitas pusat data Meta yang masih dalam tahap pembangunan.
Laporan The Guardian, bakteri yang ditemukan bernama Cupriavidus gilardii. Bakteri tersebut terdeteksi di 801.000 galon air yang dibuang kontraktor Meta, pada awal tahun ini.
Air tersebut memang tak digunakan sebagai sumber air minum masyarakat. Namun, dialirkan ke sistem pembuangan limbah Cheyenne.
Pejabat Cheyenne khawatir bakteri bisa menyebar melalui tetesan air yang menguap ketika limbah digunakan untuk irigasi. Manajer sumber daya air di Cheyenne Board of Public Utilities Frank Strong kemudian menghentikan penerimaan limbah dari kontraktor Meta pada Juli 2026.
Ia mengatakan keputusan itu diambil sebagai langkah kehati-hatian sambil mencari informasi lebih lanjut mengenai temuan bakteri tersebut.
Itu merupakan kejutan besar,”
kata Strong dikutip dari The Guardian, Jumat, 25 September 2026.
Sementara itu, Meta mempertanyakan hasil pengujian pemerintah setempat. Perusahaan mengatakan pengujian independen yang dilakukan kontraktornya tidak menemukan bukti keberadaan bakteri tersebut.
Meta juga menyatakan komitmennya untuk melindungi sumber daya air di Cheyenne. Perusahaan menilai informasi yang dirilis otoritas setempat menunjukkan tidak ada dampak terhadap masyarakat maupun lingkungan.
Kasus di Wyoming memang sedang jadi perhatian pemerintah setempat, pasalnya ini berkaitan dengan penggunaan dan pembuangan air dari pusat data di Amerika Serikat.
Data center membutuhkan air dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan, termasuk mendinginkan komputer yang menjalankan sistem kecerdasan buatan atau AI.
Diketahui data center dengan ukuran menengah saja bisa menggunakan sekitar 300.000 galon atau lebih dari 1,1 juta liter air setiap hari.
Setelah digunakan, air tersebut dapat dibuang kembali melalui sistem pengolahan limbah. Proses ini dilakukan untuk mencegah penumpukan mineral dan kerak pada pipa.
Namun, air limbah tersebut berpotensi mengandung zat seperti logam berat dan PFAS, kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai forever chemicals.
Waterkeeper Alliance menyebut 55 kelompok afiliasinya di Amerika Serikat kini tengah menangani persoalan terkait data center. Sekitar 80 persen kampanye mereka bahkan berkaitan dengan kekhawatiran pencemaran akibat pembuangan air.
Selain Wyoming, persoalan serupa juga muncul di sejumlah negara bagian AS. Misalnya di Virginia, otoritas mengambil tindakan terhadap beberapa pusat data terkait pelanggaran izin limbah dan lahan basah.
Di West Virginia, limpasan air hujan dari proyek pusat data yang belum selesai dilaporkan dua kali menyebabkan banjir di rumah warga.
Pun, di Georgia, kelompok lingkungan Flint Riverkeeper juga menyatakan akan menggugat pusat data QTS di Fayetteville atas dugaan pembuangan tanah dan konsentrasi logam dalam jumlah besar ke Sungai Flint.






