Sekitar 20 kapal tanker minyak Iran terdampar sekitar 15 mil di lepas pantai barat daya Sri Lanka, dengan persediaan makanan, bahan bakar, dan air bersih dilaporkan menipis, di tengah kampanye tekanan AS yang menargetkan perdagangan minyak Iran, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Rabu.

Menurut laporan The Wall Street Journal, kapal-kapal tanker tersebut hanyut dalam keadaan mesin mati setelah mengirimkan minyak Iran ke China.

Melansir dari Arab Times, Kamis, 1 Oktober 2026, puluhan kapal Iran atau yang terkait dengan Iran dilaporkan tetap berada di perairan sekitar Sri Lanka dan Malaysia sejak Juli, ketika AS memberlakukan kembali blokade di Selat Hormuz.

Sri Lanka Cegah Stok Pasokan

Mengutip dokumen pemerintah Sri Lanka dan perusahaan-perusahaan yang memasok perbekalan ke kapal-kapal, para pejabat AS dalam beberapa pekan terakhir menekan Sri Lanka untuk mencegah kapal-kapal lokal memasok kebutuhan kapal tanker dan awaknya. 

Laporan tersebut mengatakan bahwa langkah itu telah menyebabkan beberapa kapal menghadapi kekurangan perbekalan dasar.

Otoritas Sri Lanka sebelumnya juga mengatakan bahwa kapal-kapal Iran dan kapal-kapal lain yang beroperasi di dekat negara itu sedang dipantau dan berada di luar perairan teritorial Sri Lanka. 

Menteri Luar Negeri Sri Lanka Vijitha Herath mengatakan pada September terdapat 47 kapal yang telah diidentifikasi di sekitar wilayah tersebut, termasuk beberapa kapal Iran, dan bahwa mereka beroperasi di perairan internasional.

WSJ melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump berupaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan telah memberlakukan sanksi tambahan terhadap Iran.

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. (Foto: AI).
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. (Foto: AI).

Peringatan AS

AS juga memperingatkan negara-negara dan perusahaan lainnya yang berdagang dengan Iran akan berpotensi dikenakan sanksi.

Laporan tersebut menggambarkan situasi tersebut sebagai konsekuensi dari upaya Washington yang lebih luas untuk mengganggu ekspor minyak dan jaringan pengiriman Iran.

Perkembangan ini menyebabkan semakin banyak kapal tanker yang terkait dengan Iran menganggur di perairan Asia setelah membongkar muatannya, karena kapal-kapal tersebut tidak dapat kembali ke pelabuhan Iran akibat blokade AS. 

Sebelumnya dilaporkan bahwa puluhan kapal tanker yang terkait dengan Iran menunggu di lepas pantai Sri Lanka dan Malaysia, sementara kapal-kapal kosong menghadapi kesulitan untuk kembali ke Iran.