Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan negara-negara lain agar tak menjual minyak jika Iran tak bisa mengekspor komoditas tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Qalibaf di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap sektor energi dan perdagangan Iran. Dia menegaskan jika Iran tak bisa menjual minyak di kawasan tersebut maka negara lain juga tidak boleh melakukan hal serupa.

AS dan negara-negara lain harus tahu, seperti yang telah kami katakan, bahwa di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak ada seorang pun yang akan menjual minyak,”

kata Qalibaf, dikutip dari Anadolu Ajansi, Rabu, 30 September 2026.

Pernyataan itu muncul saat ekspor minyak Iran menghadapi pembatasan ketat akibat konflik yang masih berlangsung dengan Washington serta sanksi yang diberlakukan AS.

Gubernur Bank Sentral Iran pada Agustus lalu mengatakan ekspor minyak negara tersebut sudah turun menjadi nol. Teheran disebut tak lagi mengekspor minyak mentah akibat perang dan sanksi.

Di sisi lain, militer AS pada 19 September mengatakan lebih dari 1 miliar barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir dengan bantuan militer AS.

Washington juga mengklaim Iran tak bisa mengekspor apapun di bawah blokade ketat yang diberlakukan AS.

Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman,”

ujar Qalibaf.

Peringatan terhadap keamanan infrastruktur tersebut sebelumnya juga disampaikan Qalibaf pada awal September. Dia memperingatkan infrastruktur dan aset energi AS di sekitar Teluk dan Selat Hormuz dapat menjadi sasaran pembalasan Iran jika Washington menyerang fasilitas minyak dan gas Teheran.

Pembukaan Selat Hormuz

Ketegangan antara Iran dan AS juga berkaitan dengan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Pada 26 September 2026, Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial normal dalam waktu tujuh hari.

Trump mengatakan persyaratan yang diajukan Teheran tak bisa diterima. Dia juga mengklaim Washington sudah memiliki kendali penuh atas jalur perairan tersebut.

Dalam usulannya, Iran meminta Washington mencairkan aset Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, serta mengakhiri blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan akan mengambil langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz. Teheran juga menyebut pembicaraan mengenai kesepakatan akhir akan dimulai setelahnya.

Untuk saat ini, Iran masih batasi pelayaran di Selat Hormuz sembari menuntut Washington memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu.

Teheran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka sepenuhnya sampai persyaratan Iran dipenuhi dan komitmen Amerika Serikat dilaksanakan.

Pada Senin, 28 September 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan mediator Qatar akan menyampaikan kepada Amerika Serikat sejumlah gagasan baru yang telah dibahas bersama Teheran mengenai cara memenuhi persyaratan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Tak Akan Mundur

Di tengah tekanan tersebut, Qalibaf kembali memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Dia mengatakan Iran tidak akan mundur meski menghadapi blokade udara maupun perdagangan. Pernyataan itu disampaikan ketika Washington memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran, mulai dari sektor minyak dan maritim hingga penerbangan sipil.

Para pemimpin Gedung Putih harus tahu bahwa Iran, sebuah bangsa bijaksana yang telah menorehkan sejarah, tidak akan pernah mundur hanya karena garis-garis yang dibuat, pidato, ataupun blokade udara dan perdagangan,”

jelas Qalibaf.

Qalibaf menambahkan bahwa Iran akan merespons setiap ancaman maupun tindakan yang dianggap provokatif.

Dia memperingatkan bahwa setiap tindakan semacam itu akan menimbulkan penyesalan bagi pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.