Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

Iran di Ambang Serangan Baru Besar AS? Tiga Kapal Induk Dikerahkan ke Timur Tengah

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan opsi serangan intensif selama tiga hari ke Iran.

Kondisi di Selat Hormuz.
Kondisi di Selat Hormuz. (Foto: WANA).

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan opsi serangan intensif selama tiga hari ke Iran. Rencana serangan itu di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Rencana tersebut mencakup sejumlah target strategis, mulai dari persenjataan rudal dan drone hingga fasilitas energi dan instalasi militer Iran.

Atas arahan Presiden Donald Trump, Pentagon telah menyusun rencana untuk menargetkan persenjataan drone dan rudal Iran, fasilitas energi, dan situs militer lainnya,”

demikian laporan The New York Times yang dinukil dari The New Arab, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dari laporan The New Arab, kedatangan tiga kapal induk AS di kawasan Timur Tengah dipandang sebagai demonstrasi kekuatan militer Washington di tengah konflik.

Iklan

Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan serangan. Trump sebelumnya mengklaim terjadi ‘diskusi produktif’ dengan Iran.

Ia pun sesumbar tak akan ada serangan sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.

Namun, pernyataan tersebut belum meredakan ketegangan. Meski militer AS tidak menyerang target di Iran selama beberapa pekan terakhir, permusuhan dalam skala terbatas masih berlangsung di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran strategis itu sebagian besar masih diblokade oleh pasukan Iran. Sebagai balasan, militer AS juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di tengah kondisi itu, Iran mengancam akan memberikan perlawanan penuh apabila AS dan Israel melanjutkan perang.

Rencana terbaru tersebut muncul setelah tim keamanan nasional Trump dan Pentagon mengajukan lima proposal operasi militer berskala besar dalam beberapa bulan terakhir.

Proposal itu mencakup kemungkinan serangan terhadap Iran maupun gerakan Houthi di Yaman, yang terlibat konflik dengan Arab Saudi serta pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.
Trump sebelumnya menolak setiap proposal tersebut.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Trump kembali memerintahkan para pejabat untuk menyiapkan opsi serangan jika diperlukan. Kampanye militer yang tengah dirancang diperkirakan berlangsung singkat, tetapi intensif selama sekitar tiga hari.

Selain persediaan rudal dan drone Iran, target potensial mencakup fasilitas energi, pusat komando, serta markas utama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Persediaan rudal dan drone Iran dilaporkan sudah diisi kembali oleh IRGC sejak tahap awal perang. Kondisi itu jadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam penyusunan rencana operasi militer AS.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, para pejabat senior keamanan nasional AS telah membicarakan rencana itu dalam pertemuan yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance di Camp David pada Jumat pekan lalu.

Persiapan opsi serangan terhadap Iran juga berlangsung bersamaan dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di Timur Tengah.

Kapal induk USS Theodore Roosevelt meninggalkan San Diego pada pekan lalu. Kapal tersebut diperkirakan akan bergabung dengan USS George H.W. Bush dan USS George Washington di kawasan Timur Tengah, kemungkinan pada akhir Oktober.

Jika pengerahan itu terlaksana sesuai rencana, untuk pertama kalinya sejak 2003 tiga kapal induk AS akan berada di Timur Tengah secara bersamaan.

Setiap kelompok tempur kapal induk juga dilengkapi kapal perang pendukung. Dengan pengerahan yang lebih luas, jumlah personel Angkatan Laut dan Korps Marinir AS yang berada di laut diperkirakan melampaui 20 ribu orang pada akhir Oktober, didukung ratusan pesawat.

Meski demikian, pengerahan tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara. USS George Washington dijadwalkan kembali ke pangkalan asalnya di Jepang tak lama setelah USS Theodore Roosevelt tiba bulan depan untuk menggantikannya.

Sementara itu, dari laporan media Israel Walla, baru-baru ini melaporkan bahwa sekitar 3.000 tentara AS ditempatkan di berbagai wilayah Israel.

Laporan yang mengutip sumber keamanan anonim itu menyebutkan bahwa para personel tersebut bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara, menjadi pilot dan awak pendukung. Selain itu, menangani logistik dan operasional markas besar.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.