Bergabungnya berbagai kelompok tersebut memperluas tuntutan demonstran, dari perbaikan pendidikan hingga persoalan upah dan layanan publik.
Sebagian kecil demonstran kemudian terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko, dan menyerang bangunan publik.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengatakan dalam demonstrasi tersebut sebanyak 1.200 orang ditangkap dan 150 polisi terluka dalam rangkaian demonstrasi tersebut.
Awal Mula Demonstrasi
Demonstrasi bermula pada 17 September 2026 ketika siswa sekolah menengah atas memprotes kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, gedung sekolah yang rusak, serta fasilitas pendidikan yang tidak memadai.
Demonstrasi kemudian menyebar dari kawasan pinggiran Paris ke sejumlah kota, termasuk Lyon, Marseille, Bordeaux, Lille, dan Nantes. Hingga terjadi pemblokiran sekolah sebagai bentuk protes pelajar kepada pemerintah Prancis.
Namun, persoalan pendidikan bukan lagi satu-satunya pemicu kemarahan. Serikat pekerja, dan pendukung gerakan Yellow VestAksi kemudian bergabung dalam demonstrasi menyampaikan keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan belanja pemerintah.
Anggaran Picu Kemarahan Pekerja
Sebelumnya, pemerintah Prancis mengusulkan paket penghematan dan kebijakan pajak senilai 54 miliar euro dalam rancangan anggaran 2027. Langkah tersebut diklaim diperlukan untuk mengurangi defisit negara.
Namun, rencana pembekuan skala gaji pegawai negeri memicu penolakan serikat pekerja. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi memperpanjang tekanan terhadap pendapatan pegawai di tengah tingginya biaya hidup.
Profesor Sejarah Kontemporer Universitas Edinburgh Emile Chabal menilai demonstrasi tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian protes sosial yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Ini merupakan hasil logis dari serangkaian protes,”
kata Chabal, dikutip dari Al Jazeera, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menilai kondisi ini menambah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Emmanuel Macron
Dugaan Kekerasan Polisi
Selain persoalan ekonomi dan pendidikan, penanganan demonstrasi oleh aparat kepolisian turut menuai kritik setelah sejumlah remaja dilaporkan mengalami luka serius.
Salah satunya adalah Evan (15) yang kehilangan tangan kirinya setelah granat kejut polisi meledak di dekat demonstrasi sekolah di Lens pada 5 Oktober 2026. Ia juga mengalami cedera lain, termasuk kehilangan beberapa jari tangan kanannya.
Pengacaranya Bertrand Wattez mengungkapkan cedera yang dialami kliennya sangat parah.
Luka-lukanya menyerupai luka akibat perang,”
kata Wattez, dikutip dari The Guardian pada Senin, 19 Oktober 2026.
Selain itu adajuga Eden (14) yang mengalami patah tulang rahang dan kerusakan gigi setelah diduga terkena tembakan pelontar granat dari jarak dekat di Saint-Ouen-l’Aumône. Keluarganya telah mengajukan pengaduan hukum terkait insiden tersebut.
The Guardian juga melaporkan bahwa polisi membuka penyelidikan internal terhadap 36 laporan dugaan kekerasan aparat terhadap demonstran.
Sementara itu, Kementerian Kehakiman Prancis mencatat 6.773 anak di bawah usia 18 tahun telah dibawa ke tahanan sejak demonstrasi sekolah dimulai pada pertengahan September.
Sejumlah pengacara dan kelompok hak asasi manusia mempertanyakan penangkapan tersebut. Mereka juga menerima laporan mengenai dugaan pemukulan, penghinaan, dan pelecehan verbal terhadap remaja selama penahanan.
Krisis Politik
Meluasnya demonstrasi juga berkaitan dengan kebuntuan politik setelah pemilihan parlemen Prancis pada 2024.
Hasil pemilu tersebut tidak menghasilkan satu blok politik dengan mayoritas mutlak, sehingga kesepakatan mengenai pajak, belanja negara, dan layanan publik menjadi lebih sulit dicapai.
Kondisi tersebut memperbesar tantangan bagi pemerintah dalam merespons tuntutan demonstran. Pemerintah harus menangani aksi kekerasan sekaligus menghadapi desakan untuk memperbaiki layanan pendidikan dan menjawab keresahan ekonomi masyarakat.