Kebijakan ini menjadi perhatian pemerintah Singapura karena gas alam masih jadi sumber utama pembangkit listrik di negara tersebut. Sebagian besar kebutuhan gasnya dipenuhi melalui impor, termasuk dari Indonesia lewat jaringan pipa.
Menanggapi risiko gangguan pasokan energi, Wong mengatakan pemerintah Singapura sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperluas pilihan sumber gas. Salah satunya melalui pembangunan terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), yang memungkinkan Singapura mengimpor gas dari berbagai negara tanpa hanya bergantung pada jaringan pipa.
Ini memberi kami lebih banyak pilihan untuk mengatasi gangguan pasokan,”
ujarnya.
Di luar upaya memperluas sumber pasokan gas, Wong menekankan pentingnya mengembangkan sumber energi lain yang lebih bersih dan dapat diandalkan. Salah satu opsi yang tengah dikaji secara serius pemerintah Singapura dengan pemanfaatan tenaga nuklir.
Wong mengakui rencana itu menghadirkan tantangan tersendiri, terutama karena wilayah Singapura relatif kecil dan padat penduduk. Meski begitu, ia menilai opsi energi nuklir tetap perlu dikaji secara menyeluruh dengan mempertimbangkan risiko dan manfaatnya.
Kami menanggapi kekhawatiran ini dengan sungguh-sungguh. Keselamatan harus didahulukan. Namun kita tidak boleh menutup kemungkinan hanya karena hal itu sulit atau kontroversial,”
jelasnya.
Menurut dia, risiko dan manfaat harus dinilai cermat seperti melakukan dialog dengan rakyat.
Lalu, mengambil keputusan yang tepat bagi masa depan energi kita,”
tuturnya.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Singapura berencana mengundang Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada 2027 untuk melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kesiapan negara itu dalam mengadopsi tenaga nuklir.
Penilaian tersebut akan mencakup 19 aspek penting, termasuk keselamatan nuklir, pengelolaan limbah radioaktif, dan perencanaan tanggap darurat. Hasil peninjauan diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah Singapura dalam menentukan arah kebijakan energi ke depan.
Lebih lanjut, Wong juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi Singapura dan tidak bisa ditangani hanya dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Persoalan itu antara lain penipuan daring dan kabut asap yang melanda Singapura dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut Wong, persoalan lintas batas membutuhkan kerja sama dengan negara lain. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah Singapura akan tetap berupaya melindungi warganya, memperkuat respons, dan mencari penyelesaian terhadap berbagai masalah tersebut.
Wong menyampaikan Singapura tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri sehingga diperlukan kerja sama negara lain.
Namun, bukan berarti kita berdiam diri. Kami berupaya sekuat tenaga melindungi warga, memperkuat respons, dan bermitra menuntaskan masalah di akarnya,”
imbuhnya.