Tidak sedikit orang tua yang percaya bahwa sugar rush pada anak terjadi akibat terlalu banyak memberikan makanan atau minuman yang mengandung gula.
Sugar rush merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak hiperaktif setelah mengonsumsi gula.
Pada anak-anak, kondisi ini bisa terjadi ketika mereka mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung banyak gula, seperti cokelat, es krim, permen, dan masih banyak lagi
Faktanya, anggapan itu adalah mitos. Dokter Anak Konsultan Nutrisi & Penyakit Metabolik dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A (K) menjelaskan bahwa tidak ada penelitian yang menjelaskan bahwa anak kebanyakan makan gula bisa menyebabkan sugar rush atau hiperaktif.
Tapi kalau kita lihat, sebenarnya ada beberapa alasan yang membuat orang itu jadi berpikir gula yang menyebabkan hiperaktif. Misalnya, biasanya anak-anak ini konsumsi makanan tinggi gula pada saat event tertentu, seperti pesta ulang tahun, saat liburan, saat lebaran, dan anak-anak ini pada dasarnya memang sangat bersemangat dan aktif,”
ujar dr Meta seperti dikutip dari podcast di YouTube Raditya Dika, Senin 5 Januari 2026.
Apalagi di momen tersebut dia akan semakin aktif dan bersemangat karena bertemu teman-teman sebaya atau bertemu sepupunya. Bisa jadi ini yang membuat orang tua mengasosiasikan anaknya makin aktif gara-gara gula,”
sambung dr Meta.
Dokter Meta juga menjelaskan mitos tersebut dari sebuah penelitian, di mana penelitian tersebut membagi anak-anak dalam dua kelompok, kelompok A dan B, yang sama-sama dikasih makanan dan minuman yang tidak mengandung gula.
Tapi kelompok A ini dibilang ke orang tua kalau anaknya dikasih makanan dan minuman yang mengandung tinggi gula. Setelah itu, para orang tua mereka diminta observasi anak-anaknya, orang tua dari kelompok A bilang anak-anaknya jadi hiperaktif semua, padahal sama-sama nggak ada gulanya. Pada akhirnya memang bisa dari Ekspektasi orang tua saja,”
bebernya.
Namun dr Meta mengungkapkan dari penjelasan itu bukan berarti anak bisa bebas dikasih gula. Menurut dr Meta orang tua harus tetap memberi batasan asupan gula pada anak.
Karena meningkat risiko karies gigi, meningkatkan risiko obesitas dan penyakit yang tidak menular di kemudian hari. Jadi memang harus dibatasi,”
tuturnya.
Sementara itu, menurut rekomendasi WHO, batasan gula tambahan bagi anak sendiri tidak boleh melebihi 10 persen dari kebutuhan kalori.
“Jadi memang sangat tergantung dari usia dan berat badannya. Tapi prinsipnya, kalau usia 3 tahun itu maksimal konsumsi gula 15 gram per hari, usia 4-6 tahun 19 gram, usia 7-10 tahun 24 gram, dan di atas usia 10 tahun 30 gram per hari,”
tandasnya.
