Memasuki puncak musim hujan, menyebabkan beberapa daerah mengalami banjir. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada masalah kesehatan.
Ahli kesehatan lingkungan sekaligus epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia mengimbau kepada masyarakat khususnya anak-anak untuk tidak bermain di area banjir. Sebab banyak risiko penyakit yang mengintai.
Bermain di air banjir merupakan aktivitas berisiko tinggi (terkena) penyakit infeksi, cedera, dan gangguan kesehatan jangka panjang ataupun pendek,”
ujar dr Dicky dalam keterangannya, Selasa 13 Januari 2026.
Lebih lanjut dr Dicky menjelaskan ada banyak masalah penyakit yang muncul saat banjir, seperti diare dan penyakit kulit.
Bisa juga mengalami penyakit kulit karena paparan air kotor, yang bisa bikin dermatitis, kemudian impetigo atau infeksi kulit akibat bakteri,”
kata Dicky.
Lalu, bermain di genangan banjir juga bisa membuat luka yang tadinya kecil jadi luka infeksi serius. Bisa juga terkena infeksi parasit, karena air banjir itu bisa saja mengandung cacing atau larva dan telur dari cacing. Hal itu bisa membuat anak usai bermain air banjir jadi terinfeksi parasit cacing.
Masalah kesehatan lainnya adalah leptosirosis, dimana penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi seperti tikus.
Urine tikus mencemari air banjir, ini biasanya jadi leptospirosis. Dan, pada anak diagnosisnya terlambat karena gejalanya tidak khas,”
jelas Dicky.
Anak-anak juga berisiko terkena hipotermia, penyakit pernapasan, hingga risiko terpapar bahan kimia berbahaya. Sebab banjir bisa membawa logam berat seperti timbal, merkuri, pestisida, limbah industri.
Sehingga dampak jangka panjang pada anak berupa bisa gangguan hormon atau masalah kesehatan lain seperti gangguan saraf, ”
kata Dicky.
Selain itu juga risiko tenggelam atau terseret arus. Untuk itu, ia menyarankan kepada anak-anak untuk tidak main di area banjir.
Jadi anak tidak boleh dibiarkan bermain di air banjir atau genangan,”
tutup Dicky.
