Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.
Dari satu orang yang terinfeksi, virus dapat menularkan ke belasan orang lain yang tidak memiliki kekebalan tubuh.
Meski berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kasus campak menurun hingga 93 persen, dokter spesialis paru Erlina Burhan mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai komplikasi pneumonia pada pasien campak.
Prof Erlina mengatakan, penyakit campak bisa menyebabkan infeksi paru yang serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Bisa dilihat dari napasnya. Orang normal yang tidak sakit bernapas secara otomatis tanpa terlihat upaya. Namun, jika terlihat terengah-engah atau napas menjadi lebih cepat, itu bisa menjadi tanda sesak napas,”
ujar Prof Erlina Burhan dalam diskusi kesehatan melalui webinar, baru-baru ini.
Lebih lanjut, Prof Erlina menjelaskan gejala fisik yang dapat terlihat dari komplikasi pneumonia adalah adanya tarikan pada dinding dada (retraksi) saat menarik napas.
Peningkatan Intensitas Batuk dan Demam
Selain itu, peningkatan intensitas batuk dan demam pada fase awal juga perlu menjadi perhatian khusus bagi keluarga pasien.
Prof Erlina menyarankan masyarakat untuk rutin melakukan pengecekan mandiri terhadap frekuensi napas dan kadar saturasi oksigen di rumah.
Indikasi komplikasi pneumonia juga bisa dilihat apabila pasien mulai sulit makan, minum, atau terlihat semakin lemas secara signifikan,”
tandasnya.


