Fenomena side hustle belakangan menjadi perbincangan banyak orang di media sosial. Tren ini dijadikan strategi ekonomi oleh pekerja muda dan Gen Z untuk menambah pendapatan di tengah kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Ahli Kesehatan Lingkungan, Dicky Budiman, menyoroti fenomena tersebut. Menurutnya, side hustle dengan jam kerja ekstrem, lebih dari 12 jam sehari atau 72 jam per minggu, perlu dipahami sebagai paparan kronis terhadap stres fisiologis multisistem.
Bukan sekadar kelelahan, tapi kondisi yang secara ilmiah berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas, atau kesakitan dan kematian,”
ujar Dicky saat memberikan pernyataan kepada Owrite.id, Selasa, 21 April 2026.
Adapun ancaman medis paling nyata, bila seseorang bekerja lebih dari 12 jam sehari atau 72 jam seminggu, adalah meningkatnya risiko kardiovaskular akut dan penyakit kronis lainnya.
Meningkatkan Risiko Stroke
Ia juga memaparkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Labour Organization (ILO), yang menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu dapat meningkatkan risiko stroke hingga 35 persen serta penyakit jantung iskemik sekitar 17 persen.
Kondisi tersebut terjadi akibat aktivasi kronis sistem simpatis dan peningkatan katekolamin. Selain itu, kondisi ini juga berisiko menyebabkan hipertensi persisten, disfungsi endotel, dan inflamasi sistemik.
Ancaman medis lainnya adalah gangguan metabolik, seperti resistensi insulin yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, disregulasi hormon ghrelin dan leptin yang berpotensi memicu obesitas, serta peningkatan kortisol kronis akibat stres yang dapat menyebabkan sindrom metabolik,”
tuturnya.
Selain itu, terdapat ancaman gangguan neuropsikiatri yang dapat memicu burnout syndrome, gangguan kecemasan, depresi, hingga penurunan fungsi kognitif.
Bahkan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan dan daya ingat akan menurun, sehingga justru tidak produktif dan tidak efektif,”
lanjut Dicky.
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah imunosupresi akibat kurang tidur dan stres kronis, yang menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh, termasuk sel limfosit.
Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi virus, terutama gangguan pernapasan.
Selain itu, risiko kecelakaan kerja juga meningkat akibat microsleep, kelelahan, dan penurunan refleks yang signifikan, terutama pada pekerja dengan multi job,”
tambahnya.


