Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai tantangan utama pemerataan layanan kesehatan jantung anak saat ini bukan hanya tingginya beban penyakit. Keterbatasan akses terhadap layanan jantung anak yang berkualitas, terutama karena jumlah dokter spesialis konsultan kardiologi anak yang masih minim, juga jadi penyebab.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp. Kardio (K), dikutip pada Minggu, 26 Juli 2026, mengatakan kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memperluas layanan bagi pasien anak di berbagai daerah.
“Dengan jumlah konsultan kardiologi anak yang masih terbatas, acara seperti PCU ini menjadi wadah vital untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan terkini, terutama dalam hal deteksi dini, tatalaksana kegawatdaruratan, dan intervensi berbasis bukti terbaru,”
ujar Piprim.
Maksimalkan Teknologi
Ia menambahkan kemajuan teknologi juga harus dimanfaatkan untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan jantung anak. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan telemedicine dapat membantu mempercepat diagnosis, pemantauan pasien, serta mendukung layanan di wilayah yang belum memiliki dokter spesialis kardiologi anak.
“Program seperti PCU ini adalah bagian dari upaya kita untuk menyiapkan para dokter anak agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam memanfaatkan AI untuk diagnosis dan pemantauan jarak jauh,”
jelas dia.
Piprim juga menyinggung berbagai tantangan baru dalam penanganan penyakit jantung anak, mulai dari dilema etik hingga penerapan AI dalam praktik klinis. Inovasi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi tenaga medis agar kualitas layanan kesehatan jantung anak dapat dirasakan secara lebih merata di seluruh Indonesia.






















