Rokok elektrik atau vape kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Anggapan ini membuat tidak sedikit perokok beralih ke vape dengan harapan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan, bahkan menganggapnya sebagai langkah menuju berhenti merokok.
Popularitas rokok elektrik pun terus meningkat, terutama di kalangan anak muda. Beragam pilihan rasa, desain yang modern, serta minimnya bau asap dibandingkan rokok tembakau semakin memperkuat persepsi bahwa vape memiliki dampak yang lebih ringan bagi tubuh.
Namun tahukah kamu, anggapan tersebut ternyata keliru. Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menegaskan vape tidak lebih aman dari rokok konvensional.
Sama-sama berbahaya, punya nikotin yang bersifat adiksi. Vape juga punya potensi yang menyebabkan inflamasi paru, penyakit jantung, bronkitis kronis, dan rusaknya sel karena zat karsinogen yang cukup tinggi,”
ujar dr. Erlina dalam cuitannya di X, seperti dikutip pada 28 Juli 2026.
Vape Bisa Menyebabkan Popcorn Lung
Dokter Erlina menambahkan vape juga bisa menyebabkan popcorn lung atau bronkiolitis obliteratif, yakni kondisi di mana bronkiolus mengalami kerusakan dan udara tidak bisa lewat.
Penelitian yang dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine Evidence membuktikan hal tersebut.
Dari penelitian itu dikatakan ada keterkaitan antara vaping serta fibrosis kecil yang berpusat dengan bronkiolitis konstriktif atau bronkiolitis obliteratif. Empat pasien yang diteliti punya riwayat penggunaan vape dan sakit paru kronis selama 3–8 tahun.
Penelitian juga menemukan ketika pasien berhenti vaping, kondisinya membaik sebagian selama 1–4 tahun. Tidak sepenuhnya membaik karena ada jaringan parut, tapi setidaknya menjadi lebih baik.
Bahkan ketika sudah berhenti pun ada kondisi yang tidak bisa mengembalikan kesehatan paru-paru seperti semula. Apalagi jika tidak berhenti,”
jelasnya.
Ada juga penyakit lain yang disebabkan vape, antara lain pneumonia, asma, PPOK, dan paru-paru kolaps. Selain itu, risiko kanker juga tidak lepas dari vape karena kandungan zat kimia formaldehid dan hidrokarbon.
Belum lagi zat kimia lainnya. Sensasi rasa mangga, mint, dan lainnya itu Anda dapatkan dari kandungan bahan kimia. WHO sudah menyoroti adanya pemasaran yang misleading dengan mengungkapkan bahwa vape lebih sehat padahal, lihat, kenyataannya ya berbahaya,”
tandasnya.



















