Merokok kerap dianggap sebagai salah satu cara untuk meredakan stres. Sebagian perokok merasa lebih tenang, rileks, atau mampu berkonsentrasi setelah menghisap rokok, terutama ketika sedang menghadapi tekanan pekerjaan maupun persoalan ekonomi.
Namun, ahli kesehatan masyarakat dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH mengatakan anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar secara ilmiah.
Menurutnya, efek menenangkan yang dirasakan perokok setelah mengonsumsi rokok hanya bersifat sementara.
Bukan karena rokok mengobati stres, tapi karena nikotin meredakan putus nikotin withdrawal yang muncul akibat kecanduan,”
ujar dr. Dicky dalam keterangannya dikutip pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Kandungan Nikotin
Dokter Dicky menjelaskan ketika seseorang merokok, kandungan nikotin dalam hitungan detik mencapai otak dan merangsang pelepasan dopamin sehingga muncul sensasi nyaman, rileks dan peningkatan konsentrasi yang sifatnya sementara.
Efek ini hanya berlangsung selama 20-30 menit. Setelah kadar nikotinnya menurun, tubuh itu mengalami gejala ketagihan berupa rasa gelisah, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah marah. Kemudian perokok menganggap ketika merokok kembali sebagai solusi untuk menghilangkan stres, padahal itu seperti lingkaran setan,”
jelasnya.
Dokter Dicky juga mengingatkan bahwa nikotin merupakan zat yang sangat adiktif sehingga dapat membuat seseorang sulit melepaskan diri dari ketergantungan.
Karena itu, persepsi bahwa rokok merupakan “terapi” untuk menghadapi tekanan perlu diluruskan. Persoalan tersebut juga menjadi lebih kompleks pada masyarakat berpenghasilan rendah.
Dalam konteks masyarakat berpenghasilan rendah, rokok sering dipakai sebagai mekanisme coping terhadap tekanan ekonomi. Namun sesungguhnya rokok tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah beban finansial dan masalah kesehatan sehingga memperburuk kondisi keluarga,”
katanya.
Ia menegaskan, rasa tenang yang muncul setelah merokok bukan berarti rokok memiliki efek terapi terhadap stres. Sensasi tersebut lebih merupakan efek sementara dari nikotin yang meredakan gejala putus nikotin.
Jadi rokok itu bukan terapi stres. Yang dirasakan perokok sebagai alat penenang adalah hilangnya gejala putus nikotin untuk sementara waktu. Dalam jangka panjang, merokok meningkatkan kerentanan pada stres,”
tutup dr. Dicky.



















