Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menargetkan seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjalankan operasional dasar paling lambat dalam satu minggu. Target tersebut dikejar untuk mengantisipasi potensi lonjakan pasien dalam beberapa hari ke depan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemulihan rumah sakit menjadi prioritas utama pemerintah setelah gempa berdampak pada sejumlah fasilitas kesehatan di NTT. Layanan yang dipulihkan terlebih dahulu mencakup operasi trauma, layanan ibu dan anak, serta hemodialisis.
Prioritas utama untuk mengembalikan fungsi layanan di seluruh rumah sakit kabupaten/kota terdampak, untuk menghadapi lonjakan pasien dalam beberapa hari ke depan,”
ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Selasa, 18 Agustus 2026.
Berdasarkan laporan situasi per 15 Agustus 2026, gempa berdampak pada 21 rumah sakit di delapan kabupaten/kota NTT, yakni Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur.
Dari jumlah tersebut, 16 rumah sakit masih beroperasi penuh, empat rumah sakit beroperasi sebagian, dan satu rumah sakit belum dapat beroperasi. Sementara dari tingkat kerusakan, tiga rumah sakit mengalami rusak berat, enam rusak ringan, dan 12 rumah sakit tidak mengalami kerusakan struktur.
RSUD Nagekeo dan Ruteng
Kemenkes memberikan perhatian khusus terhadap RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng yang berdasarkan informasi sementara menjadi lokasi dengan kondisi paling parah.
Untuk menjaga pelayanan medis tetap berjalan, Kemenkes telah mengerahkan Rumah Sakit Lapangan yang dilengkapi fasilitas operasi ke kedua lokasi tersebut. Emergency Medical Team (EMT) yang terdiri dari dokter spesialis bedah, anestesi, dan emergensi juga telah bergerak memberikan penguatan pelayanan.
Info sementara lokasi terparah di RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. RS Lapangan lengkap dengan fasilitas operasi, serta Emergency Medical Team yang terdiri dari dokter spesialis bedah, anestesi, dan emergensi sudah bergerak ke dua lokasi tersebut hari ini,”
kata Budi.
Khusus RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan berat, Kemenkes menyiapkan satu set Rumah Sakit Mobil pada Senin (17/8/2026). Fasilitas tersebut dilengkapi ruang operasi untuk memastikan pelayanan medis dasar dan penanganan kegawatdaruratan tetap dapat dilakukan selama proses pemulihan rumah sakit.
Kemenkes juga menyiapkan sistem rujukan untuk mengantisipasi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. RSUD Borong dan RSUD Komodo disiapkan sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien dari Nagekeo.
RSUD Borong sebelumnya menjadi bagian dari Program Quick Win dengan target waktu rujukan dua jam, sedangkan RSUD Komodo memiliki target waktu rujukan empat jam.
Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Selain rumah sakit, Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas yang mengalami kerusakan dapat kembali beroperasi dalam waktu dua minggu. Setidaknya, fasilitas tersebut diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat.
Layanan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi menjadi sejumlah pelayanan yang diprioritaskan di puskesmas selama masa pemulihan.
Berdasarkan laporan per 15 Agustus 2026, dari 190 puskesmas terdampak, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum dapat beroperasi.
Kerusakan tercatat pada 20 puskesmas yang mengalami rusak berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Sementara 116 puskesmas lainnya tidak mengalami kerusakan.
Untuk memperkuat koordinasi penanganan kesehatan pascagempa, Kemenkes telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di sembilan titik, terdiri dari satu HEOC tingkat pusat/provinsi dan delapan HEOC tingkat kabupaten/kota terdampak.
Kemenkes juga mengirimkan dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Kabupaten Sikka dan Ende serta dua tim EMT untuk memperkuat pelayanan medis di lokasi terdampak.
Dukungan logistik kesehatan turut dikirimkan pada 16 Agustus 2026. Bantuan tersebut terdiri dari delapan paket obat-obatan dasar, lima paket Emergency Kit, 1.000 sarung tangan steril, 20.000 sarung tangan nonsteril, 20.000 masker bedah, 10 unit oksigen konsentrator, dan dua unit tenda pos kesehatan.
Sebanyak delapan tenda tambahan juga disiagakan untuk mendukung pelayanan kesehatan di lapangan.
Kemenkes terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, BNPB, dan Basarnas untuk mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan sekaligus memastikan kebutuhan tenaga medis, obat-obatan, alat kesehatan, dan sarana pendukung tetap tersedia di wilayah terdampak.


















