Layanan konsultasi kesehatan jiwa Healing119 milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerima 500 hingga 600 kontak setiap hari melalui telepon maupun WhatsApp.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan saat layanan kembali diaktifkan pada Juli 2025 yang mencatat sekitar 350–400 kontak per hari.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman mengatakan, kalau melihat layanan Healing119, keluhan yang disampaikan pengguna memang cukup beragam.
Banyak di antaranya berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa dan persoalan pada sistem dukungan terdekat atau primary support system, seperti keluarga dan relasi,”
ujar Aji kepada Owrite, Selasa 15 September 2026.
Aktif Mengakses Layanan
Namun, tambah Aji, data Healing119 tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan penyebab utama masalah kesehatan jiwa secara umum di Indonesia, karena pengguna layanan ini merupakan kelompok yang secara aktif mengakses layanan.
Jadi, yang penting kita pahami adalah masalah kesehatan jiwa bersifat multifaktorial. Karena itu, upaya pencegahannya juga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari memperkuat individu dan keluarga, menciptakan lingkungan sekolah, tempat kerja, dan ruang digital yang sehat, melakukan deteksi dini, sampai memastikan akses terhadap layanan kesehatan jiwa ketika dibutuhkan,”
paparnya.
Seperti diketahui, Healing119 merupakan layanan dukungan psikologis awal yang disediakan pemerintah bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional, keputusasaan, atau berada dalam kondisi krisis kesehatan jiwa.
Layanan ini dapat diakses tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. Kemenkes juga menjelaskan bahwa Healing119 dapat digunakan secara anonim dan tersedia bagi masyarakat secara nasional.
Di tengah meningkatnya pemanfaatan layanan tersebut, pencatatan kasus bunuh diri di Indonesia juga masih menjadi perhatian.
Data yang disampaikan Kemenkes menunjukkan kasus bunuh diri yang dilaporkan kepada kepolisian meningkat dari 1.332 kasus pada 2023 menjadi 1.403 kasus pada 2024, kemudian kembali meningkat pada 2025.






