Anggapan makan terlalu banyak telur bisa menyebabkan bisul masih kerap terdengar di masyarakat, terutama ketika menyangkut anak-anak. Namun, benarkah telur menjadi penyebab munculnya bisul?

Ahli Gizi IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Gizi., mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan konsumsi telur secara langsung menyebabkan bisul.

Menurutnya, bisul lebih berkaitan dengan infeksi bakteri pada kulit.

Flora normal ini bisa menyebabkan infeksi apabila sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah dan kebersihan diri (hygiene) yang kurang,”

jelas Karina dalam keterangannya, Selasa 15 September 2026.

Karina menjelaskan, bakteri yang paling sering menjadi penyebab bisul adalah Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut sebenarnya dapat ditemukan secara normal di permukaan kulit.

Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri bisa masuk ke jaringan kulit dan memicu infeksi.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika daya tahan tubuh menurun atau kebersihan diri tidak terjaga. Kondisi kulit yang mengalami luka, termasuk akibat garukan, juga dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri.

Anak-anak pun dinilai lebih rentan mengalami kondisi tersebut. Selain sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, aktivitas anak yang tinggi membuat mereka lebih sering mengalami gesekan pada kulit maupun luka akibat garukan.

Kebiasaan menjaga kebersihan juga turut berpengaruh. Karina menyebut jarang mandi hingga tidak memotong kuku yang panjang dapat meningkatkan risiko bakteri masuk melalui luka pada kulit.

Lantas, dari mana anggapan bahwa telur bisa menyebabkan bisul?

Alergi Terhadap Telur

Menurut Karina, telur memang dapat memicu reaksi pada orang yang memiliki alergi terhadap telur. Namun, reaksi tersebut berbeda dengan bisul.

Pada orang yang memiliki alergi telur, konsumsi telur yang berlebihan dapat menimbulkan ruam dan gatal-gatal pada kulit. Jika digaruk, ini akan menimbulkan luka terbuka yang mempermudah masuknya bakteri penyebab bisul,”

ujarnya.

Reaksi alergi telur umumnya dapat berupa bentol, kemerahan, dan rasa gatal. Sementara bisul merupakan infeksi kulit yang biasanya ditandai dengan benjolan, rasa nyeri, serta dapat disertai nanah.

Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki alergi telur tidak perlu menghindari makanan tersebut hanya karena khawatir mengalami bisul. Telur tetap dapat dikonsumsi sebagai salah satu sumber protein dalam pola makan sehari-hari.

Telur mengandung 6–7 gram protein per butir. Kebutuhan protein orang dewasa 0,8–1 gram/kg berat badan. Tentunya tidak semuanya didapatkan dari telur, tetapi disarankan agar sumber protein dari aneka ragam pangan hewani maupun nabati,”

katanya.

Meski demikian, Karina mengingatkan konsumsi telur tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi. Pasalnya, satu butir telur mengandung sekitar 5–5,3 gram lemak, termasuk sekitar 1,5–1,6 gram lemak jenuh.

Batas konsumsi lemak jenuh sendiri maksimal sekitar 7 persen dari total kebutuhan energi, atau sekitar 15 gram per hari untuk kebutuhan energi 2.000 kilokalori.

Dengan demikian, telur bukan penyebab langsung bisul. Munculnya bisul lebih berkaitan dengan infeksi bakteri, kondisi kulit, kebersihan diri, serta daya tahan tubuh.

Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut,”

tandas Karina.