Beras fortifikasi menjadi perhatian setelah muncul temuan terkait ketidaksesuaian kandungan zat gizi dengan klaim pada label.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, terutama karena beras fortifikasi ditujukan sebagai salah satu sumber tambahan mikronutrien bagi kelompok rentan.
Pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman mengatakan, kandungan fortifikasi yang lebih rendah dari klaim tidak serta-merta membuat beras menjadi beracun atau menyebabkan keracunan akut.
Namun, persoalan tersebut dapat berdampak dalam jangka panjang apabila terjadi pada kelompok yang memang mengandalkan fortifikasi sebagai bagian dari strategi pemenuhan gizi.
Ketidaksesuaian kandungan fortifikan ini tidak serta-merta menimbulkan dampak kesehatan secara langsung bagi konsumen. Beras tetap memberi energi dari karbohidratnya seperti biasa. Yang hilang adalah nilai tambah gizinya,”
kata Dicky.
Menurut Dicky, risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada balita, ibu hamil, dan anak yang mengalami stunting.
Kelompok tersebut membutuhkan asupan mikronutrien yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta menjaga kondisi kesehatan.
Persoalannya secara epidemiologis, terutama untuk kelompok rentan yang bergantung pada program ini. Sumber mikronutrien mereka bisa terganggu apabila kandungan fortifikasi tidak sesuai dengan yang seharusnya,”
ujarnya.
Beras Biasa
Dicky menjelaskan, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras biasa yang ditambahkan sejumlah zat gizi mikro. Beberapa zat yang umum ditambahkan antara lain zat besi, asam folat, vitamin B1, B3, B6, dan seng (zinc).
Fortifikasi tersebut dirancang sebagai intervensi gizi berbasis populasi untuk membantu mengatasi kekurangan mikronutrien yang tidak selalu dapat dipenuhi melalui pola makan sehari-hari.
Fortifikasi ini ditujukan untuk kelompok rentan seperti anak-anak stunting, ibu menyusui, hingga balita sebagai intervensi gizi berbasis populasi untuk mengatasi defisiensi mikronutrien yang sulit dicukupi hanya dari pola makan harian,”
jelas Dicky.
Picu Hidden Hunger
Dicky mengatakan, kondisi ketika seseorang memperoleh cukup energi dari makanan tetapi kekurangan vitamin dan mineral dikenal sebagai hidden hunger.
Persoalan ini yang menurutnya lebih relevan untuk melihat dampak jangka panjang dari beras fortifikasi yang kandungannya tidak sesuai.
Konsep yang relevan di sini adalah hidden hunger, yaitu kondisi ketika perut terasa kenyang tetapi sel-sel tubuh mengalami kekurangan gizi mikronutrien,”
kata Dicky.
Jika berlangsung dalam jangka panjang dan terjadi pada kelompok rentan, kekurangan mikronutrien dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan seperti anemia dan gangguan tumbuh kembang, terutama apabila kebutuhan zat gizi tidak tercukupi dari sumber makanan lainnya.
Untuk balita, ibu hamil, anak stunting yang secara sengaja diberi beras ini sebagai bagian dari strategi pencegahan, konsekuensi jangka panjangnya bisa berupa anemia, gangguan tumbuh kembang, atau stunting yang tidak tertangani,”
Karena itu, Dicky menekankan bahwa persoalan beras fortifikasi yang tidak sesuai kandungan sebaiknya tidak dibingkai semata sebagai isu beras beracun. Yang menjadi masalah adalah ketika produk yang seharusnya memberikan tambahan mikronutrien ternyata tidak memberikan kandungan sesuai klaim.
Jadi bukan karena racun, tapi karena intervensi yang seharusnya melindungi mereka ternyata tidak bekerja,”
pungkas Dicky.






