Masalah gigi berlubang masih banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Berdasarkan data dari Kemenkes dalam Kick-off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 pada 17 September 2026 mencatat 41 persen anak sekolah yang menjalani pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengalami karies atau gigi berlubang.

Angka tersebut berarti sekitar empat dari setiap 10 anak yang diperiksa ditemukan mengalami karies. Kemenkes pun mendorong pemeriksaan gigi secara rutin dan membiasakan anak menjaga kesehatan gigi sejak dini.

Pemeriksaan gigi disebut penting dilakukan secara berkala agar masalah dapat diketahui sebelum berkembang menjadi lebih parah.

Konsumsi Manis

Salah satu faktor utama yang berkaitan dengan gigi berlubang adalah konsumsi gula bebas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa gula yang terdapat dalam makanan dan minuman dapat diubah menjadi asam oleh bakteri dalam plak gigi.

Paparan asam yang berulang kemudian dapat merusak permukaan gigi dan menyebabkan karies. Karena itu, kebiasaan mengonsumsi permen, cokelat, kue manis, minuman berpemanis, hingga makanan dan minuman dengan tambahan gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko karies.

Bukan hanya jumlah gula, frekuensi mengonsumsinya juga perlu diperhatikan karena gigi dapat lebih sering terpapar kondisi asam.

Jarang Bersihkan Plak

Gigi berlubang juga berkaitan dengan plak yang menumpuk di permukaan gigi. Konsumsi gula, paparan fluoride yang tidak memadai, serta tidak optimalnya pembersihan plak melalui menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dapat berkontribusi terhadap terjadinya karies.

Kemenkes sendiri mengingatkan pentingnya menyikat gigi pada waktu yang tepat, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam.

Penggunaan pasta gigi berfluoride juga diperkenalkan sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan gigi anak.

Kurang Fluoride

Fluoride memiliki peran dalam membantu melindungi gigi dari kerusakan akibat asam. Kurangnya paparan fluoride sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko karies.

Sebaliknya, penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride 1.000–1.500 ppm dapat membantu mencegah kerusakan gigi.

Karena itu, perawatan gigi anak tidak cukup hanya dengan mengurangi makanan manis. Kebiasaan menyikat gigi dengan teknik yang benar dan menggunakan pasta gigi berfluoride juga penting untuk dilakukan secara rutin.

Jarang Periksa Gigi

Gigi berlubang tidak selalu langsung menimbulkan rasa sakit. Akibatnya, anak dapat tetap beraktivitas meskipun sudah terdapat masalah pada giginya. Jika tidak diperiksa, kerusakan dapat berkembang.

Kemenkes menganjurkan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan. Pemeriksaan tersebut bertujuan menemukan masalah kesehatan gigi lebih awal sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Dengan demikian, tingginya kasus gigi berlubang pada anak tidak hanya berkaitan dengan satu kebiasaan. Membentuk kebiasaan merawat gigi sejak anak-anak menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah karies dan menjaga kesehatan gigi hingga dewasa.