Tren memuntahkan makanan ramai dilakukan oleh pelaku diet dan juga model agar tetap mendapatkan berat badan ideal meskipun makan banyak. 

Namun, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan apabila dilakukan secara berulang. Ahli gizi dari IPB University dr. Yunita Aryani menjelaskan bahwa makanan yang dimuntahkan tidak berarti seluruhnya keluar dari tubuh. 

“Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan,”

kata Yunita, dikutip pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Gangguan

Ia mengatakan jika metode ini dilakukan secara berulang maka termasuk purging behavior atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. 

“Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, kemunculan rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan,”

jelas Yunita.

Menurutnya, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti bulimia nervosa (gangguan makan yang ditandai dengan kecenderungan untuk memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan).

Konten mukbang yang menormalisasi tindakan memuntahkan makanan juga perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi ditiru oleh penonton, terutama remaja dan individu yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan.

Hipokalemia dan Risiko Lain

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat muntah berulang adalah hipokalemia atau kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah. Muntah menyebabkan kehilangan cairan dan asam lambung sehingga tubuh mengaktifkan mekanisme hormonal untuk mempertahankan cairan. Peningkatan hormon aldosteron kemudian dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine.

“Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung. Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa,”

terang dia.

Selain hipokalemia, muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit serta asam-basa, peradangan dan luka pada kerongkongan, kerusakan enamel gigi akibat paparan asam lambung, hingga risiko tersedak atau masuknya isi lambung ke paru-paru. 

“Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan,”

tutur dia.

Komprehensif

Yunita menekankan pentingnya penanganan secara komprehensif. Individu yang mengalami perilaku tersebut perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi kondisi fisik, pola makan, status hidrasi, kondisi psikologis, elektrolit, fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

“Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh,”

ucap dia.

Ia mengingatkan bahwa memuntahkan makanan bukan jalan pintas untuk menjadi kurus. Pengelolaan berat badan perlu dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.