Batuk, pilek, hingga demam yang tak kunjung sembuh selama berminggu-minggu mulai menjadi keluhan yang dirasakan masyarakat.

Kondisi ini membuat sebagian orang bertanya-tanya, apakah flu yang berlangsung lama masih tergolong wajar atau justru menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain.

Dokter Klinik IPB University dr Wahyu Rachwaldy menyampaikan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fenomena medis yang dapat dijelaskan berdasarkan dinamika virus, kondisi lingkungan, dan respons imun tubuh.

Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),”

ucapnya dalam keterangan resminya Selasa 06 Oktober 2026.

Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama dapat terjadi karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah sirkulasi bersamaan (co-circulation) berbagai jenis virus respiratorik di masyarakat, mulai dari influenza A/B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2.

Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt, yakni ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun,”

jelasnya.

Perlu Diwaspadai

Dr Wahyu menjelaskan, masyarakat perlu mengetahui batas normal perjalanan infeksi saluran pernapasan agar tidak menganggap semua flu berkepanjangan sebagai kondisi biasa.

Pada masa akut, yakni hari pertama hingga ketiga, gejala umumnya mencapai puncaknya berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas.

Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam mulai mereda dan energi tubuh berangsur pulih, meski batuk dan sekresi hidung masih dapat bertahan.

Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua minggu,”

tambahnya.

Namun, flu atau ISPA mulai tergolong membandel apabila gejala utama tak kunjung membaik. Terlebih jika kondisi tersebut disertai demam, sesak, atau batuk berdahak kental yang bertahan lebih dari 10 hingga 14 hari.

Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak napas,”

paparnya.

Selain durasi gejala, masyarakat juga perlu memperhatikan munculnya keluhan tertentu. Nyeri hebat di area wajah atau dahi dapat mengindikasikan sinusitis.

Sementara nyeri telinga yang tajam hingga penurunan pendengaran juga menjadi pertanda infeksi yang membutuhkan perhatian khusus.

Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama tidak selalu berarti virus masih aktif di dalam tubuh. Kerusakan mukosa setelah infeksi dapat memudahkan bakteri berkembang dan memicu infeksi sekunder seperti sinusitis bakterialis akut, bronkitis, atau pneumonia.

Peradangan yang menetap juga dapat memicu batuk pascainfeksi. Dalam kondisi ini, saluran napas menjadi lebih sensitif terhadap udara dingin, asap, maupun debu sehingga batuk kering dapat bertahan hingga beberapa minggu.

Faktor lain yang memperlambat pemulihan meliputi infeksi berulang akibat terinfeksi jenis virus berbeda tepat saat akan sembuh, serta tercetusnya reaksi alergi atau asma yang sebelumnya tersembunyi,”

sebutnya.

Polusi dan Cuaca

Selain kondisi tubuh, lingkungan juga dapat memengaruhi lama pemulihan dari infeksi saluran pernapasan.

Menurut dr Wahyu, perubahan cuaca ekstrem dan polusi udara dapat memperberat gejala sekaligus memperlama proses penyembuhan.

Paparan PM2.5, NO2, dan SO2 dapat merusak silia serta membran epitel, sehingga mengganggu mekanisme alami tubuh dalam mengeluarkan dahak dan patogen.

Polusi yang terus-menerus juga memicu peradangan kronis yang memperparah pembengkakan mukosa hidung dan tenggorokan. Ditambah lagi, kondisi udara dingin dan kering juga dapat menurunkan produksi mukus pelindung serta memperlambat respons imun lokal di area hidung,”

tutur dr Wahyu menjelaskan.

Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengabaikan flu yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Konsultasi dengan tenaga medis diperlukan terutama jika muncul sesak napas, napas terasa berat dan berbunyi, nyeri dada hebat atau rasa tertekan saat bernapas, serta demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari tiga hingga lima hari berturut-turut.

Tanda bahaya lainnya meliputi dahak berwarna hijau pekat, cokelat, atau bercampur darah, hingga terjadinya penurunan kesadaran, pusing berat, dan dehidrasi.