Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bahaya Membersihkan Telinga dengan Cotton Bud, Bisa Dorong Kotoran hingga Melukai Gendang Telinga

Membersihkan telinga menggunakan cotton bud sudah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama setelah mandi.

Ilustrasi membersihkan telinga dengan cotton bud
Ilustrasi membersihkan telinga dengan cotton bud (Foto: Magnific/jcomp)

Membersihkan telinga menggunakan cotton bud sudah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama setelah mandi.

Bahkan, sebagian orang merasa telinganya belum benar-benar bersih jika tidak mengorek bagian dalamnya menggunakan alat tersebut.

Padahal, kebiasaan yang terlihat sederhana ini justru berisiko mengganggu kesehatan telinga. Alih-alih mengeluarkan kotoran, penggunaan cotton bud dapat mendorong kotoran semakin dalam, menyebabkan iritasi, hingga melukai gendang telinga.

Iklan

Menariknya, kotoran telinga yang sering dianggap mengganggu sebenarnya memiliki fungsi penting untuk melindungi organ pendengaran.

Mengapa penggunaan cotton bud tidak disarankan dan bagaimana seharusnya membersihkan telinga? Dilansir dari laman Kementrian Kesehatan RI pada 13 Juni 2022, simak penjelasan berikut.

Fungsi Kotoran Telinga

Kotoran telinga atau serumen bukan sekadar sesuatu yang harus dibersihkan. Zat alami ini diproduksi oleh kelenjar di saluran telinga untuk membantu menjaga kesehatan organ pendengaran.

Serumen berfungsi menangkap debu, kotoran, dan partikel asing agar tidak mudah masuk ke bagian dalam telinga.

Selain itu, serumen membantu menjaga kelembapan kulit saluran telinga dan memberikan perlindungan terhadap mikroorganisme.

Pada kondisi normal, telinga juga memiliki mekanisme pembersihan alami. Gerakan rahang ketika berbicara dan mengunyah membantu membawa serumen secara perlahan menuju bagian luar saluran telinga.

Karena itu, membersihkan seluruh kotoran telinga secara rutin sebenarnya tidak diperlukan.

Cotton Bud Tidak Efektif

Salah satu alasan utama penggunaan cotton bud tidak disarankan adalah risiko penumpukan kotoran telinga. Menurut American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF), penggunaan kapas bertangkai dapat mendorong serumen semakin jauh ke dalam saluran telinga, bukan mengeluarkannya secara menyeluruh.

Jika dilakukan berulang kali, kotoran dapat menumpuk dan mengeras hingga menyebabkan kondisi yang disebut impaksi serumen atau penyumbatan kotoran telinga.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan beberapa keluhan, seperti telinga terasa penuh, pendengaran berkurang, hingga munculnya suara berdenging atau tinnitus.

Risiko Cedera pada Telinga

Penelitian berjudul Pediatric Cotton-Tip Applicator-Related Ear Injury Treated in United States Emergency Departments, menganalisis data kunjungan instalasi gawat darurat di Amerika Serikat selama 21 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 263.338 anak berusia di bawah 18 tahun diperkirakan mendapatkan perawatan akibat cedera telinga yang berkaitan dengan penggunaan cotton bud sepanjang periode tersebut.

Dari kasus yang diteliti, sebanyak 73,2 persen cedera terjadi ketika aktivitas membersihkan telinga. Sementara itu, 25,3 persen kasus mendapatkan diagnosis perforasi membran timpani atau robeknya gendang telinga.

Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas membersihkan telinga yang dianggap sepele ternyata dapat menimbulkan cedera serius, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan pada anak-anak.

Menyebabkan Infeksi

Selain menyebabkan penumpukan serumen, penggunaan cotton bud terlalu dalam dapat menggores kulit saluran telinga yang relatif tipis dan sensitif. Luka kecil akibat gesekan tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada saluran telinga luar atau otitis eksterna.

WHO juga memperingatkan bahwa kapas pada ujung cotton bud berpotensi tertinggal di dalam telinga dan menjadi benda asing yang dapat memicu infeksi.

Pada kondisi tertentu, tekanan atau gerakan yang terlalu kuat bahkan dapat merobek gendang telinga. Cedera ini dapat disertai rasa nyeri, perdarahan, gangguan pendengaran, atau pusing.

Cara Membersihkan Telinga

Meski penggunaan cotton bud tidak dianjurkan untuk membersihkan saluran telinga, bukan berarti kebersihan telinga harus diabaikan. WHO menyarankan masyarakat cukup membersihkan bagian luar telinga menggunakan kain lembut atau kapas tanpa memasukkannya ke dalam lubang telinga.

Apabila kotoran telinga menumpuk hingga menyebabkan rasa tidak nyaman atau gangguan pendengaran, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter, khususnya dokter spesialis THT.

Hindari pula penggunaan obat tetes telinga secara sembarangan, terutama apabila memiliki riwayat gendang telinga berlubang atau pernah menjalani operasi telinga.

Jika muncul keluhan seperti nyeri, perdarahan, keluar cairan dari telinga, atau pendengaran tiba-tiba menurun, segera lakukan pemeriksaan medis dan jangan mencoba mengorek telinga sendiri. 

Iklan