Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bukan Cuma Batuk, Asap Karhutla Bisa Ganggu Perkembangan Paru Anak hingga Picu Asma Kronis

Paparan asap yang berlangsung terus-menerus dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi saluran pernapasan berulang, hingga mengganggu perkembangan paru-paru anak.

Petugas menarik selang saat memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Petugas menarik selang saat memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj.)

Bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Paparan asap yang berlangsung terus-menerus dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi saluran pernapasan berulang, hingga mengganggu perkembangan paru-paru anak.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan kerentanan bayi dan balita berkaitan dengan karakteristik sistem pernapasan mereka yang masih berkembang.

Iklan

Anak-anak juga bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa sehingga dapat menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badan mereka.

Kalau untuk bayi dan balita jelas anak itu jauh lebih rentan, napasnya bisa lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya dan juga saluran napasnya sempit, paru masih berkembang,”

kata Dicky kepada Owrite, Rabu 14 Oktober 2026.

Kondisi tersebut membuat paparan polutan dalam asap karhutla perlu diwaspadai, terutama ketika kabut asap bertahan selama berminggu-minggu atau berulang setiap musim kebakaran.

Kesehatan Anak

Dampaknya bukan hanya berupa gangguan pernapasan yang muncul dalam waktu dekat, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Dicky menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan gas iritan yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Pada bayi dan balita, paparan berulang dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Dan ini yang membuat bahaya dalam asap yang terus terhirup ini batuk berkepanjangan bisa infeksi saluran napas berulang, infeksi telinga, sesak napas dan kekurangan oksigen,”

ujarnya.

Gangguan tersebut perlu mendapat perhatian karena bayi belum dapat menjelaskan keluhan yang dirasakan. Orang tua perlu memperhatikan perubahan pola napas, batuk yang tidak kunjung membaik, serta kondisi anak yang terlihat lebih lemas atau kesulitan menyusu dan minum.

Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, tarikan dinding dada ke dalam, bibir kebiruan, atau sulit dibangunkan, orang tua harus segera mencari pertolongan medis.

Jangan menunggu gejala memburuk karena gangguan pernapasan pada bayi dapat berkembang menjadi kondisi darurat.

Selain dampak jangka pendek, paparan asap karhutla yang berulang juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi perkembangan sistem pernapasan anak.

Dicky mengingatkan, bayi dan balita yang terus-menerus terpapar asap berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, terutama jika kondisi tersebut membuat mereka sering sakit.

Risiko Asma Kronis

Dalam jangka panjang, paparan berulang juga dapat memengaruhi perkembangan fungsi paru dan meningkatkan risiko asma kronis.

Kalau sering sakit dan tentu dalam jangka panjang ya perkembangan fungsi paru dan peningkatan risiko asma kronis,”

kata Dicky.

Karena itu, perlindungan bayi dan balita perlu menjadi prioritas ketika karhutla menyebabkan penurunan kualitas udara.

Orang tua sebaiknya mengurangi aktivitas anak di luar ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Saat asap masuk ke lingkungan rumah, tutup pintu dan jendela serta upayakan udara di dalam ruangan tetap bersih.

Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara yang sesuai. Hindari membawa bayi ke luar rumah tanpa kebutuhan mendesak ketika paparan asap tinggi.

Orang tua juga perlu memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan otoritas kesehatan setempat.

Apabila bayi mengalami batuk berkepanjangan atau gejala pernapasan lainnya, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat,”

tandasnya.

Iklan