Adapun penambahan kasus harian pada 17 Oktober tercatat sebanyak 2.778 kasus, turun tipis dibandingkan 2.808 kasus pada 16 Oktober 2026.
Kelompok anak usia 6–9 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 77.022 kasus. Sementara itu, balita berusia 0–5 tahun tercatat sebanyak 69.015 kasus dan kelompok lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun mencapai 49.680 kasus,”
ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman kepada Owrite Senin 19 Oktober 2026.
22 Kasus ISPA
Aji menambahkan Kemenkes juga mencatat 22 kasus ISPA pada kelompok penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Adapun data kasus pada ibu hamil dan pekerja luar ruangan masih dalam proses pemilahan.
Dari sebaran wilayah, Sumatera Selatan mencatat kasus ISPA tertinggi dengan 82.001 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 78.486 kasus dan Kalimantan Barat sebanyak 55.585 kasus.
Selanjutnya, Riau mencatat 36.272 kasus, Kalimantan Timur 27.441 kasus, serta Kalimantan Tengah sebanyak 26.524 kasus.
Selain ISPA, dampak kesehatan akibat karhutla juga tercermin dari laporan penyakit lainnya. Data Kemenkes mencatat 1.342 kasus pneumonia di Kalimantan Selatan, 768 kasus di Sumatera Selatan, dan 476 kasus di Riau.
Kasus diare akut juga tercatat sebanyak 4.191 kasus di Kalimantan Barat. Sementara itu, Riau mencatat 704 kasus penyakit kulit, 318 kasus sakit mata, dan 50 kasus heat stroke.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak. Upaya yang dilakukan meliputi mobilisasi sumber daya manusia (SDM) kesehatan, distribusi logistik medis seperti masker, oxygen concentrator, dan obat-obatan, serta penyediaan rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan,”
bebernya.
Pemerintah juga menyiagakan puskesmas dan rumah sakit beserta layanan kesehatannya untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh penanganan medis.
Selain itu, surveilans penyakit dan pemantauan risiko kesehatan terus dilakukan untuk mendeteksi perkembangan kasus serta mengantisipasi gangguan kesehatan lainnya.
Hidup Bersih dan Sehat
Ia menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menjaga kesehatan masyarakat di tengah peningkatan risiko ISPA akibat karhutla.
Terapkan PHBS setiap hari. Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok,”
kata Aji.
Aji juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara berasap atau berdebu.
Apabila harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulut dengan baik.
Perlindungan khusus perlu diberikan kepada anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta, terutama asma dan gangguan paru-paru. Kelompok tersebut perlu menghindari paparan asap sebisa mungkin dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan,”
tuturnya.
Masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau gejala lain yang mengganggu.
Kemenkes terus memperkuat pemantauan penyakit dan kesiapan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak agar masyarakat mendapatkan perlindungan serta penanganan yang diperlukan selama karhutla berlangsung,”
tandasnya.