Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bukan Cuma Anjing, Ini Hewan yang Bisa Terkena Rabies dan Ciri-Cirinya

Air liur hewan terinfeksi yang masuk ke tubuh lewat gigitan, cakaran yang terkontaminasi air liur, atau kontak dengan luka terbuka dan selaput lendir.

Anjing
Anjing (Foto: Unsplash/Helena Lopes)

Rabies sering dikaitkan dengan gigitan anjing. Padahal, penyakit yang menyerang sistem saraf pusat ini juga dapat menginfeksi berbagai jenis mamalia, termasuk kucing, monyet, hingga kelelawar.

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus. Penularannya umumnya terjadi melalui air liur hewan terinfeksi yang masuk ke tubuh lewat gigitan, cakaran yang terkontaminasi air liur, atau kontak dengan luka terbuka dan selaput lendir.

Melansir dari laman World Heatlh Organization (WHO), anjing bertanggung jawab atas sekitar 99 persen kasus penularan rabies kepada manusia secara global.

Iklan

Meski begitu, bukan berarti hewan lain terbebas dari risiko penyakit mematikan ini.

Hewan Terkena Rabies

Pada dasarnya, semua mamalia dapat terinfeksi rabies. Namun, jenis hewan yang berperan dalam penularannya berbeda-beda menurut wilayah. Beberapa hewan yang dapat terkena rabies antara lain:

1.    Anjing. Sumber utama penularan rabies kepada manusia secara global.

2.   Kucing. Dapat tertular melalui gigitan hewan yang terinfeksi.

3.   Monyet. Berpotensi menularkan rabies melalui gigitan atau paparan air liur yang terinfeksi.

4.   Kelelawar. Menjadi salah satu reservoir alami virus rabies di sejumlah wilayah.

5.   Rubah, rakun, dan sigung. Termasuk satwa liar yang berperan dalam penyebaran rabies di beberapa negara.

6.   Sapi, kambing, dan kuda. Dapat terinfeksi rabies, meskipun bukan sumber utama penularannya.

Sementara itu, hewan seperti ayam, burung, ikan, ular, dan reptil lainnya tidak terkena rabies karena bukan kelompok mamalia.

Hewan Terinfeksi Rabies

Hewan yang terkena rabies tidak selalu terlihat ganas atau mengeluarkan busa dari mulut. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejalanya dapat berupa perubahan perilaku hingga gangguan saraf.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Mendadak agresif atau menyerang tanpa alasan yang jelas.
  • Hewan yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi pendiam dan menyendiri.
  • Air liur keluar secara berlebihan.
  • Kesulitan menelan makanan atau minuman.
  • Berjalan sempoyongan dan kehilangan keseimbangan.
  • Mengalami kejang atau kelumpuhan.
  • Nafsu makan menurun dan tubuh terlihat lemah.

Gejala tersebut tidak selalu muncul bersamaan. Hewan juga tidak dapat dipastikan terkena rabies hanya berdasarkan penampilan fisiknya.

Rabies di Indonesia

Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan RI melalui Ayo Sehat, sekitar 98 persen penularan rabies kepada manusia di Indonesia berasal dari anjing. Sementara itu, sekitar 2 persen sisanya berasal dari kucing dan kera.

Data tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap rabies tidak boleh terbatas pada anjing liar. Hewan peliharaan juga berpotensi terinfeksi apabila tidak mendapatkan vaksinasi dan terpapar hewan pembawa virus.

Jangan menunggu hewan menunjukkan gejala atau luka terasa sakit sebelum mencari pertolongan medis.

Vaksinasi rutin pada hewan peliharaan juga menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan rabies, sekaligus melindungi manusia dan hewan di sekitarnya.

Iklan