Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

IPB Ingatkan Daging Ternak Mati Mendadak Tak Aman Dikonsumsi Meski Dimasak

Kasus wabah antraks yang terjadi di Dusun Pelem, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul ini menjadi perhatian para ahli kesehatan.

Ilustrasi hewan sapi mati
Ilustrasi hewan sapi mati (Gambar dibuat AI)

Kasus wabah antraks yang terjadi di Dusun Pelem, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul ini menjadi perhatian para ahli kesehatan.

Sebab, kasus tersebut menyebabkan empat warga dilaporkan positif antraks setelah mengonsumsi daging kambing yang sakit dan mati mendadak.

Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr. drh. Denny Widaya Lukman, menegaskan bahwa ternak atau hewan lain yang terinfeksi antraks tidak boleh dipotong untuk diambil dagingnya.

Iklan

Daging dan jeroan hewan tersebut juga tidak boleh dikonsumsi karena berisiko menularkan penyakit kepada manusia.

Daging dari hewan yang sakit dan mati mendadak tidak boleh dianggap aman untuk dikonsumsi, sekalipun telah dimasak,”

ujar drh. Denny dalam keterangannya dikutip dari laman IPB University Kamis 22 Oktober 2026.

Ia mengingatkan bahwa pemanasan atau memasak daging yang mengandung spora antraks tidak dapat menjamin spora tersebut menjadi tidak aktif.

Bakteri Bacillus Anthracis

Lebih lanjut drh. Denny memaparkan bahwa penyakit antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang mampu membentuk spora sebagai mekanisme perlindungan diri ketika kondisi lingkungan tidak sesuai.

Dalam tubuh hewan atau manusia, bakteri berada dalam bentuk sel vegetatif yang infektif karena kondisi anaerob. Sementara itu, di luar tubuh hewan atau manusia, bakteri berada dalam bentuk spora,”

ujarnya.

Menurutnya, spora antraks dapat bertahan hidup di lingkungan dan tanah hingga puluhan tahun. Karena itu, wilayah yang pernah mengalami kasus antraks perlu mendapat perhatian khusus untuk mencegah penularan berulang.

Salah satu jalur penularan dari sapi atau hewan ruminansia lain yang terinfeksi adalah konsumsi daging atau susu yang tercemar bakteri tersebut.

Daging dan jeroan hewan penderita antraks dapat mengandung sel vegetatif bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Gejala dan Risiko

Dr. drh. Denny menjelaskan, antraks gastrointestinal atau antraks pada saluran pencernaan dapat terjadi setelah seseorang mengonsumsi bahan pangan yang terkontaminasi.

Bakteri dan toksinnya merusak jaringan, lalu menyebar melalui aliran darah (bakteremia).

Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis dan mengganggu berbagai organ, bahkan berujung pada kematian.

Gejala yang muncul dapat berbeda-beda, bergantung pada jumlah spora yang masuk, kondisi imunitas, usia, serta kemungkinan terjadinya bakteremia dan sepsis.

Gejala umumnya muncul dalam satu hingga tujuh hari setelah seseorang mengonsumsi daging yang mengandung spora antraks.

Ia pun mengimbau masyarakat di wilayah yang pernah mengalami kasus antraks perlu memahami bahaya penyakit ini bagi kesehatan hewan maupun manusia.

Pengetahuan tentang gejala pada hewan, jalur penularan, dan langkah pencegahan penting untuk memutus rantai penularan.

Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi daging dari ternak yang sakit atau mati mendadak. Jika menemukan kejadian tersebut, warga sebaiknya segera melapor kepada petugas kesehatan hewan setempat agar ditangani sesuai prosedur dan tidak menimbulkan risiko lebih luas,”

tutup Dr. drh. Denny.

Iklan