Penanganannya tidak cukup hanya berfokus pada dampak fisik yang langsung terlihat.
Dampak krisis iklim, seperti kecemasan pada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah secara luring akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, membutuhkan mitigasi psikososial sejak dini,”
kata Puspita dalam keterangan resmi yang diterima Owrite Jumat 23 Oktober 2026.
Puspita menyoroti bahwa penanganan kesehatan mental masih cenderung berfokus pada masalah yang sudah muncul, bukan pencegahan sejak awal.
Akibatnya, pembahasan kesehatan mental kerap baru mengemuka ketika masalah mental telah termanifestasi, alih-alih menjadi bagian dari upaya pencegahan sejak awal,”
ujarnya.
Dampak Psikologis
Menurut Puspita, dampak psikologis akibat krisis iklim harus menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat dalam jangka panjang.
Jadi, dampak krisis iklim terhadap kesehatan mental masyarakat harus diperhitungkan secara jangka panjang, tidak cukup hanya dengan mengacu pada dampak yang langsung terlihat,”
tambah Puspita.
Ia menambahkan, dukungan psikologis tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga profesional. Masyarakat juga dapat berperan membantu orang-orang di sekitarnya yang terdampak.
Tiap individu dapat berperan dalam memberikan dukungan awal bagi lingkungan di sekitarnya, membantu masyarakat merasa aman, dan menghubungkan mereka dengan layanan yang sesuai,”
ucap Puspita.
Ia juga mendorong edukasi untuk mengurangi stigma kesehatan mental, penguatan jejaring sosial lokal, dan pelatihan pertolongan pertama pada luka psikologis agar masyarakat dapat memberikan dukungan awal kepada kelompok yang membutuhkan.