Budi menekankan bahwa kol sebenarnya merupakan pilihan sayuran yang sehat dan terjangkau. Namun, pengolahannya dengan cara digoreng menggunakan minyak yang telah dipakai berkali-kali dapat menimbulkan persoalan kesehatan.
Ini kol 100 gram cuma 24 kalori. Aslinya sayurnya kan kayak gini, udah murah, sehat lagi. Tapi kalau digoreng kayak begini, kol goreng ini digorengnya pakai apa? Pakai minyak jelantah! Minyaknya udah hitam, butek lagi, dipakainya berulang-ulang,”
ujar Budi dikutip dari laman Instagram @bgsadikin.
Perubahan Kimia Akibat Pemanasan
Penggunaan minyak secara berulang dapat menyebabkan perubahan kimia akibat pemanasan, termasuk oksidasi dan pembentukan senyawa hasil degradasi minyak.
Karena itu, kualitas minyak menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keamanan makanan.
Selain persoalan minyak, proses penggorengan bersuhu tinggi juga dapat memengaruhi kandungan senyawa bioaktif dalam sayuran.
Sejumlah senyawa alami dalam kol dapat berkurang selama pengolahan, meskipun besarnya perubahan bergantung pada suhu dan metode memasak.
Penggorengan juga memungkinkan minyak terserap ke dalam makanan sehingga meningkatkan kandungan lemak dan kalorinya dibandingkan kol segar,”
tambahnya.
Meski demikian, kol goreng tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab kanker. Potensi manfaat senyawa alami dalam kol dan risiko dari minyak yang rusak merupakan dua hal berbeda yang perlu dipahami secara tepat.
Budi menyarankan masyarakat dapat memilih kol segar sebagai lalapan atau mengolahnya dengan cara dikukus untuk mengurangi penggunaan minyak. Kol yang dikonsumsi mentah harus dicuci bersih menggunakan air mengalir.
Dengan memperhatikan cara memasak dan kualitas minyak, kamu tetap dapat menikmati sayuran sebagai bagian dari pola makan seimbang,”
tandasnya.