Badan Kesehatan dan Keamanan Pangan Austria menyebutkan, infeksi virus Shamonda pada hewan dapat menimbulkan sejumlah gejala, antara lain diare, kehilangan nafsu makan, dan penurunan produksi susu.
Virus ini juga dikaitkan dengan keguguran serta kelainan bawaan pada anak sapi, anak domba, dan anak kambing yang baru lahir.
Mengalami Gejala Neurologis
Selain itu, materi genetik virus Shamonda dilaporkan ditemukan pada otak kuda di Swiss dan Jerman yang mati setelah mengalami gejala neurologis.
Meski sebelumnya telah ditemukan pada hewan ternak di luar Eropa, virus tersebut baru terdeteksi pada ternak di kawasan Eropa pada musim panas tahun ini.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan, kasus di Prancis menjadi infeksi pertama pada manusia yang berhasil diidentifikasi.
Namun, hubungan antara infeksi virus dan kematian pasien masih belum dapat dipastikan. ECDC menyebut pria tersebut telah mengalami kondisi sakit serius sebelum terinfeksi dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Penyelidikan mengenai apakah virus tersebut menyebabkan atau turut berkontribusi terhadap kematian pasien, serta bagaimana infeksi itu diperoleh, masih berlangsung,”
demikian pernyataan ECDC dilansir dari The Guardian, Selasa, 27 Oktober 2026.
Risiko Masyarakat Dinilai Rendah
Direktur Pandemic Institute di University of Liverpool, Prof. Tom Solomon, menilai risiko virus Shamonda terhadap masyarakat umum saat ini tampaknya sangat rendah.
Menurut dia, virus tersebut telah beredar pada hewan selama bertahun-tahun, terutama sapi, serta ditemukan pada domba, kambing, kuda, dan alpaka.
Namun, hingga kasus di Prancis teridentifikasi, belum ada infeksi pada manusia yang diakui secara resmi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penularan kepada manusia sangat jarang terjadi,”
kata Solomon.
Meski demikian, ia menekankan masih banyak hal yang belum diketahui mengenai virus tersebut. Para peneliti belum memastikan mengenai cara penularan, gejala, serta seberapa sering infeksi dapat berkembang menjadi penyakit serius.
Otoritas Prancis menilai komplikasi neurologis yang dialami pasien kemungkinan besar berkaitan dengan infeksi virus Shamonda.
Meski demikian, penyelidikan lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.
Solomon mengingatkan, munculnya satu kasus pada manusia memang perlu mendapat perhatian, tetapi tidak serta-merta menunjukkan bahwa virus tersebut menimbulkan ancaman besar bagi masyarakat luas.
Senada, Dr. Ben Brennan dari Pusat Penelitian Virus MRC-University of Glasgow mengatakan, hingga kini belum ada bukti penularan virus Shamonda yang berlangsung secara berkelanjutan antarmanusia.
Menurut Brennan, temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui penelitian ilmiah dan pemantauan epidemiologis.
Namun, berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, kasus tersebut belum menunjukkan adanya ancaman kesehatan masyarakat baru yang signifikan di Inggris.
Bagi sebagian besar orang, tidak ada alasan untuk mengubah aktivitas sehari-hari atau melakukan tindakan pencegahan tambahan,”
tandasnya.