Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Sering Kesemutan? Awas, Bisa Jadi Sinyal Gangguan Saraf hingga Diabetes!

Namun, jika sensasi seperti tertusuk jarum ini muncul berulang kali tanpa penyebab yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Ilustrasi saat tangan kesemutan
Ilustrasi saat tangan kesemutan (Foto: Unsplash/krakenimages.com)

Kesemutan sering dianggap sebagai keluhan ringan akibat terlalu lama duduk bersila atau tertidur dengan posisi tangan tertindih.

Namun, jika sensasi seperti tertusuk jarum ini muncul berulang kali tanpa penyebab yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Dalam dunia medis, kesemutan dikenal sebagai parestesia, yaitu sensasi abnormal pada tubuh yang dapat berupa rasa geli, tertusuk jarum, mati rasa, hingga seperti terbakar.

Iklan

Keluhan ini bisa terjadi sementara, tetapi juga dapat berkaitan dengan gangguan saraf atau penyakit tertentu.

Pemicu Kesemutan

Penyebab kesemutan yang paling umum adalah tekanan sementara pada saraf akibat posisi tubuh tertentu. Misalnya, duduk bersila terlalu lama, tidur menindih lengan, atau mempertahankan posisi tubuh yang sama dalam waktu lama.

Tekanan tersebut dapat mengganggu penghantaran sinyal saraf sehingga muncul sensasi kebas atau tertusuk jarum. Biasanya, keluhan berangsur hilang setelah posisi tubuh diubah dan tekanan pada saraf berkurang.

Menurut National Health Service (NHS), kesemutan yang hanya berlangsung beberapa menit setelah perubahan posisi umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, keluhan yang terus muncul atau berlangsung lama perlu diperiksa lebih lanjut.

Kekurangan Vitamin B12

Kesemutan yang berulang juga dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin B12. Vitamin ini berperan penting dalam menjaga fungsi sistem saraf dan pembentukan sel darah merah.

Jika tubuh kekurangan vitamin B12, seseorang dapat mengalami kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki. Pada kondisi tertentu, keluhan juga disertai kelemahan otot dan gangguan keseimbangan.

Namun, kesemutan tidak otomatis menandakan kekurangan vitamin. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya sebelum seseorang mengonsumsi suplemen tertentu.

Bisa Tanda Diabetes

Salah satu penyebab kesemutan yang perlu diwaspadai adalah diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf dan pembuluh darah kecil yang memasok nutrisi ke saraf.

Kondisi tersebut dikenal sebagai neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf akibat diabetes. Gejalanya dapat berupa kesemutan, mati rasa, sensasi terbakar, atau nyeri, terutama pada kaki dan tungkai.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebutkan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah orang dengan diabetes mengalami neuropati perifer.

Karena itu, kesemutan yang sering muncul, terutama pada kedua kaki, sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai akibat kelelahan. Pemeriksaan gula darah dapat dipertimbangkan oleh dokter sesuai kondisi dan faktor risiko seseorang.

Penyebab Lainnya

Selain beberapa kondisi di atas, kesemutan berulang juga dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti:

  • Gangguan tiroid. Fungsi tiroid yang kurang aktif dapat berkaitan dengan gangguan saraf.
  • Penyakit ginjal. Gangguan fungsi ginjal tertentu dapat memicu kerusakan saraf.
  • Efek samping obat. Beberapa obat, termasuk obat kemoterapi tertentu, dapat menimbulkan gangguan saraf.
  • Kondisi autoimun. Penyakit tertentu dapat menyebabkan peradangan atau kerusakan pada saraf.
  • Pernapasan terlalu cepat. Hiperventilasi dapat memicu kesemutan, terutama di sekitar mulut serta tangan.

Beragamnya kemungkinan penyebab tersebut membuat frekuensi, lokasi, durasi, dan gejala penyerta menjadi informasi penting saat memeriksakan diri ke dokter.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, menyarankan tes darah untuk mengevaluasi kadar gula darah, vitamin B12, atau penyebab lain sesuai gejala.

Pada akhirnya, kesemutan tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, jika keluhan sering muncul, tidak kunjung hilang, atau disertai gejala lain, jangan hanya mengandalkan pijatan maupun suplemen. Mengetahui penyebabnya merupakan langkah penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Iklan