Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Ancaman Diabetes di Indonesia: Tembus 20,4 Juta Jiwa dan Berpotensi Naik Drastis di 2050

Jumlah penyandang diabetes melitus (DM) di Indonesia masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (Foto: OWRITE/Syifa)

Jumlah penyandang diabetes melitus (DM) di Indonesia masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

International Diabetes Federation (IDF) mencatat, jumlah orang dewasa dengan diabetes di Indonesia mencapai 20,4 juta orang pada 2024. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia menempati peringkat kelima dunia dalam jumlah orang dewasa penyandang diabetes.

Iklan

Kondisi ini menunjukkan diabetes masih menjadi salah satu tantangan penyakit tidak menular yang terus meningkat di Tanah Air.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengungkapkan hasil skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menemukan puluhan ribu warga dengan indikasi diabetes.

“Dari pemeriksaan skrining CKG terhadap sekitar 124 juta penduduk Indonesia, kami menemukan kurang lebih 30.000 orang dengan diabetes,”

kata Nadia kepada Owrite saat ditemui dalam acara Media Discussion “Kalbe Dukung Pencegahan Diabetes melalui Deteksi Dini, Nutrisi Tepat, hingga Solusi Kesehatan Personal”, Selasa, 3 November 2026.

Usia Dewasa

Menurut Nadia, diabetes lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa dibandingkan kelompok usia muda. Bahkan, sebagian besar penyandang diabetes yang teridentifikasi berada pada kelompok usia di atas 40 tahun.

“Kalau dilihat dari proporsinya, sekitar 70 persen merupakan penyandang diabetes berusia di atas 40 tahun, sedangkan 30 persen lainnya berusia di bawah 40 tahun,”

ujarnya.

Nadia menjelaskan, secara umum prevalensi diabetes pada kelompok usia muda masih berada di bawah satu persen jika dibandingkan dengan kelompok dewasa.

Upaya Deteksi Dini

Karena itu, faktor usia menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya deteksi dini penyakit tersebut.

Terkait faktor risiko, Nadia mengatakan penyebab diabetes tidak bisa disimpulkan hanya dari satu kondisi.

Namun, berdasarkan karakteristik pasien yang ditemukan, kelebihan berat badan dan obesitas kerap menjadi kondisi yang menyertai diabetes.

Hal tersebut dapat dilihat melalui indeks massa tubuh (IMT) maupun obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut.

“Kalau melihat kondisi pasien yang kami temukan, umumnya mereka memiliki obesitas atau berat badan berlebih. Itu bisa dilihat dari obesitas sentral maupun indeks massa tubuhnya,”

jelas Nadia.

Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik.

Penyakit ini dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, ginjal, pembuluh darah, hingga kerusakan saraf.

Besarnya jumlah penyandang diabetes dan proyeksi peningkatannya menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Deteksi dini diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sekaligus memperoleh penanganan sebelum penyakit berkembang dan memicu komplikasi.

Iklan