Dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University, Dr. Swastiko Priyambodo, menjelaskan bahwa salah satu jenis pinjal yang berperan dalam penularan pes adalah Xenopsylla cheopis.
Pinjal tersebut merupakan ektoparasit yang hidup dengan mengisap darah tikus. Dalam rantai penularannya, terdapat tiga komponen yang saling berkaitan, yakni tikus sebagai inang, pinjal sebagai vektor, dan bakteri Yersinia pestis sebagai penyebab penyakit.
Dengan demikian terdapat tiga tingkat trofik yang bekerja sama dalam penularan penyakit pes, yaitu tikus, pinjal tikus, dan bakteri pes,”
jelas Swastiko dikutip Owrite pada Jumat, 6 November 2026.
Dia menerangkan, pinjal umumnya tidak berpindah inang selama masih dapat bertahan hidup pada tubuh inangnya. Namun, situasi berubah ketika tikus yang menjadi inang mati.
Dalam kondisi tersebut, pinjal akan mencari inang baru untuk mendapatkan sumber darah. Apabila pinjal yang terinfeksi kemudian menggigit manusia, bakteri penyebab pes berpotensi masuk ke dalam tubuh.
Berbagai spesies tikus sebenarnya berpotensi terlibat dalam penularan penyakit ini. Namun, tikus rumah dan tikus Norway menjadi perhatian karena habitatnya berdekatan dengan aktivitas manusia sehingga peluang kontak lebih besar.
Pandemi Mematikan
Ancaman penyakit pes bukan perkara baru. Dunia pernah mengalami pandemi besar yang dikenal sebagai Black Death pada periode 1347–1351.
Wabah tersebut melanda Eropa, Afrika Utara, hingga Asia Barat dan menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah penyakit menular.
Terkait dugaan kasus di Rusia, Swastiko menilai keberadaan pinjal sebagai vektor menjadi salah satu faktor penting dalam memahami potensi penularan pes.
Menurutnya, peluang penularan melalui jalur tersebut sangat kecil apabila tidak terdapat pinjal yang berperan sebagai vektor. Meski demikian, penilaian risiko tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan informasi resmi otoritas kesehatan.
Di Indonesia, penyakit pes juga masih ditemukan secara terbatas di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa dan terus berada dalam pemantauan Kementerian Kesehatan.
Mencegah Tikus Bersarang
Untuk menekan risiko penularan, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal.
Swastiko menekankan pentingnya sanitasi lingkungan, termasuk menghilangkan sumber makanan yang dapat menarik kedatangan tikus.
Pengendalian tikus di habitat sekitar manusia menjadi hal yang penting untuk kita terapkan, terutama dengan cara sanitasi, menghilangkan sumber daya atau makanan manusia yang dapat dimakan oleh tikus seperti tempat sampah,”
ungkapnya.
Selain penyakit pes, keberadaan tikus juga berkaitan dengan risiko penyakit lain, seperti leptospirosis dan hantavirus.
Leptospirosis dapat menular melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi. Sementara itu, jenis hantavirus tertentu dapat menyebar ketika manusia menghirup udara yang terkontaminasi partikel dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat.
Karena itu, menjaga kebersihan rumah, menutup tempat penyimpanan makanan, mengelola sampah dengan benar, serta mengurangi tempat persembunyian tikus menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari penyakit yang berkaitan dengan hewan pengerat.