Warga kompleks Jakarta Garden City mendesak penghentian uji coba lanjutan Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Mereka protes karena merasa terganggu dengan bau tak sedap yang ditimbulkan dari air lindi akibat pengolahan sampah.
Rupanya tak hanya sekedar bau, air lindi juga memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang. Bukan hanya pada lingkungan tapi juga kesehatan. Air lindi sendiri merupakan caira cairan hasil perkolasi air melalui timbunan sampah yang mengandung senyawa organik, logam berat, mikroorganisme patogen, juga bahan kimia toksik.
Ahli Kesehatan Lingkungan, Universitas Griffith, Australia, dr Dicky Budiman, menjelaskan tentang bahaya jangka panjang pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh air lindi.
Dokter Dicky menjelaskan, air lindi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga kesehatan manusia.
Jika air lindi ini tumpah atau mengalir ke jalan, ini akan mencemari tanah atau air permukaan. Maka masyarakat sekitar akan terpapar atau dirugikan melalui 3 jalur utama. Pertama inhalasi, jadi menghirup bau dan gas toksik. Kedua, kontak kulit langsung. Ketiga konsumsi air tanah atau makanan yang tercemar,”
ujar dr Dicky saat dihubungi Owrite melalui pesan singkat, Jumat (14/11/2025).
Untuk jangka pendek pada kesehatan, orang-orang yang terpapar bisa mengakibatkan gangguan saluran pernafasan akibat menghirup gas ammonia, hidrogen sulfida, dan metana yang terlepas dari proses dekomposisi sampah. Hal ini bisa membuat gangguan kesehatan, seperti batuk, sesak nepas, iritasi tenggorokan, dan sakit kepala. Selain itu, juga bisa membuat iritasi pada kulit dan mata akibat kontak dengan air lindi yang mengandung logam berat dan mikro organisme.
Selain itu kalau air lindi itu mencemari air yang dipakai oleh rumah tangga ya, mencuci piring dan panci masak atau sayurannya tercemar ketika dikonsumsi ya ini akan membuat gangguan pencernaan atau gastroenteritis,”
ujar dr Dicky.
Sementara itu, pada jangka panjang dampaknya bisa menyebabkan penyakit kronis akibat logam berat. Baik itu dari timbalnya, kadmium ataupun hemoglobin, hingga mengganggu ginjal dan hati. Selain itu, juga bisa menyebabkan anemia dan gangguan syaraf.
Dalam jangka panjang bisa berpotensi karsinogen atau menyebabkan kanker. Terutama bahan kimia karsinogenik seperti benzen atau toluen. Tak hanya itu, air lindi juga bisa berakibat pada peningkatan penyakit menular yang berbasis lingkungan.
Ya jadi karena tumpahan air lindi ini dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, lalat, tikus, sehingga meningkatkan risiko. Seperti demam bedarah, leptospirosis, diare, dan kolera. Tapi ya potensi penyakit itu menjadi lebih merugikan akan bisa terjadi,”
ucapnya.
Yang mengerikan menurut dr Dicky, air lindi bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Karena bau busuk dan kondisi lingkungan kotor ini akan meningkatkan stres, gangguan tidur, juga menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar,”
terangnya.
Menurut dr Dicky, pengolahan sampah RDF ini sebenarnya sudah dilakukan di beberapa negara, namun idealnya hanya mengolah sampah yang telah dipilah. Namun permasalahan di Indonesia, proses pemilahan tidak optimal.
Sampah basah maupun limbah berbaya ikut tercampur. Ini yang jadi masalahnya di Indonesia. Sehingga ini berdampak terjadi pembentukan air lindi,”
pungkasnya

