Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 11 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Megapolitan / (Part I) Tragedi Es Gabus: Ketika Aparat Kebablasan dan “Sok Tahu”
Megapolitan

(Part I) Tragedi Es Gabus: Ketika Aparat Kebablasan dan “Sok Tahu”

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 30, 2026 5:52 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
6 bulan lalu
Share
Potongan video/gambar Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi, Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Heri, serta pedagan es kue Sudrajat
Potongan video/gambar Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi, Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Heri, serta pedagan es kue Sudrajat. (sumber foto: tiktok balewartawanjakpus10)
SHARE

“Ada polisi panggil saya, ‘Bang, es kue, Bang. Minta empat.’ Terus dibejek-bejek es kuenya,” kata Sudrajat, si pedagang es kue.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi, Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Heri, serta warga mengklaim es kue Sudrajat berbahan tidak aman untuk dikonsumsi karena berbahan dasar spons.

Es kue itu dilempar ke badannya, dagangannya juga dirusak, dan ia ditendang dengan kaki bersepatu lars. Sabtu, 24 Januari, Sudrajat ketakutan akibat intimidasi aparat.

Sudrajat pun masih ragu untuk berjualan di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat, akibat insiden itu. Ia tak ingin jadi samsak warga sekitar karena tuduhan tak berdasar aparat.

Namun, setelah es kue itu diperiksa di laboratorium hasilnya bahan baku cemilan lawas itu tak terindikasi menggunakan spons maupun zat kimia berbahaya.

Kasus ini viral, akhirnya dua aparat itu meminta maaf atas perlakuan sok tahu dan semena-mena mereka terhadap Sudrajat.

Peristiwa yang menimpa Sudrajat bukan sekadar kesalahpahaman lapangan. Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai, tindakan represif yang diduga dilakukan oleh anggota TNI dan Polri tersebut merupakan tindak pidana serius yang berkonsekuensi berat di bawah rezim hukum pidana terbaru Indonesia.

Tindakan yang dilakukan oleh aparatur negara atau pejabat yang diduga melibatkan setidaknya anggota Polri dan TNI, sepanjang menggunakan kekerasan dan intimidasi, dapat dijerat dengan ketentuan pidana dalam KUHP baru,”

kata Direktur Eksekutif ICJR Erasmus Napitupulu, dalam keterangan tertulis, 28 Januari.

Pasal 529 menyatakan pejabat yang dalam perkara pidana memaksa seseorang untuk mengaku atau memberi keterangan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.

Kemudian Pasal 530 menegaskan, setiap pejabat atau orang lain yang bertindak dalam suatu kapasitas pejabat resmi, atau orang yang bertindak karena digerakkan atau sepengetahuan pejabat publik melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan fisik atau mental terhadap seseorang dengan tujuan untuk memperoleh informasi atau pengakuan dari orang tersebut atau orang ketiga, menghukumnya atas perbuatan yang dilakukan atau disangkakan telah dilakukan olehnya atau orang ketiga, atau melakukan intimidasi atau memaksa orang tersebut atau orang ketiga atas dasar suatu alasan diskriminasi dalam segala bentuknya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.

Poin ini menjadi peringatan keras bahwa seragam dinas tidak lagi menjadi imunitas, melainkan justru menjadi faktor pemberat pidana ketika digunakan untuk menindas warga sipil.

Selain aspek pidana materiel, ICJR juga menemukan cacat prosedur yang fatal dalam penanganan kasus ini. Keterlibatan aparat TNI dalam ranah penegakan hukum sipil (interogasi pedagang kaki lima) dinilai melampaui wewenang.

Erasmus menekankan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana telah mempertegas perlindungan hak asasi manusia bagi siapa pun yang berhadapan dengan hukum.

Proses “interogasi jalanan” yang dilakukan tanpa surat perintah, melibatkan aktor non-yudisial (militer), dan menggunakan kekerasan, adalah pelanggaran telanjang terhadap regulasi tersebut.

Kehadiran aparat atau pejabat yang tidak berwenang, seperti TNI, serta tindakan pengambilan keterangan dan penggunaan kekerasan oleh kepolisian jelas bertentangan dengan ketentuan hukum acara pidana,”

jelas Erasmus.

ICJR memandang kasus Sudrajat sebagai mikrokosmos dari masalah yang lebih besar: normalisasi kekerasan aparat di ruang sipil. Jika pedagang kecil bisa dituduh, dipukul, dan dipaksa tanpa bukti forensik yang sah, maka kebebasan sipil berada dalam bahaya.

Korban dilaporkan mengalami trauma mendalam hingga takut untuk kembali berdagang. Ini merupakan indikator nyata kegagalan negara memberikan rasa aman, serta tindakan ini sangat berbahaya bagi kebebasan dan perlindungan sipil.

ICJR mendorong adanya proses hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan dan intimidasi, meminta agar pemerintah memfasilitasi ganti kerugian dan perlindungan bagi korban, serta memastikan tidak terjadinya tindakan serupa di kemudian hari—khususnya keterlibatan anggota TNI dalam ruang sipil yang melampaui tugas pokok dan fungsinya dan tindakan polisi yang bertindak di luar kewenangan dan melanggar hukum.

Salah Kaprah Kerjakan Tugas

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bereaksi keras atas penyelesaian kasus penganiayaan terhadap Sudrajat, yang diklaim telah selesai melalui jalur kekeluargaan.

Ketua Umum YLBHI Muhammad Isnur, menegaskan tindakan aparat tersebut bukan sekadar kesalahpahaman, melainkan tindak pidana murni yang harus diproses hingga ke pengadilan.

Dalam keterangan resminya, Isnur membedah kasus ini dari tiga perspektif krusial: ranah pidana, pelanggaran wewenang, dan kegagalan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Kasus ini haram diselesaikan dengan permintaan maaf. Ada dua delik pidana yang dilakukan oleh aparat di lapangan: kekerasan fisik dan verbal; serta penyebaran berita bohong yang merugikan mata pencaharian korban.

Ini harus dipandang bukan kesalahan biasa. Ini adalah tindak pidana, baik itu kekerasan, pemukulan, pelecehan, juga penyebaran disinformasi. Sanksinya bukan hanya minta maaf, tapi juga harusnya diberikan atau diarahkan menuju penyidikan dan dibawa ke pengadilan,”

ucap Isnur.

Tujuan hingga proses pengadilan agar publik tahu secara gamblang bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh aparat bakal mendapatkan hukuman setimpal. Bukan hanya masyarakat yang diproses hukum jika salah, aparat juga harus ditindaklanjuti secara hukum pula.

Isnur juga menyorot penyebaran klaim palsu kepada masyarakat bahwa es tersebut berbahaya tanpa bukti ilmiah. Maka, YLBHI mendesak agar prinsip persamaan di hadapan diterapkan secara adil dan konkret.

Sorotan tajam juga diarahkan pada keterlibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam “menguji” kualitas makanan pedagang kaki lima. Isnur menyebut tindakan ini sebagai bentuk arogansi dan pelanggaran kode etik berat karena melampaui tugas pokok dan fungsi mereka.

Tindakan ini bukan kewenangan Babinsa dan Babinkamtibmas. Ini kewenangan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk mengecek makanan itu baik atau tidak. Ini adalah bagian dari arogansi, kesewenang-wenangan, dan bukan hanya pidana, tapi juga kode etik dan kepegawaian,”

jelas Isnur.

Tak hanya itu, insiden ini juga jadi ajang evaluasi kelembagaan, Tugas tentara seperti disampaikan dalam Undang-Undang Pertahanan dan Undang-Undang TNI adalah pertahanan.

Publik harus mendesak tentara untuk kembali fokus pada urusan pertahanan, ancaman perang, bukan mengurus es,”

ucap Isnur.

Begitu pula dengan Polri, Isnur mempertanyakan kualitas SDM kepolisian yang tampak tidak memahami asas praduga tak bersalah. Harus ada reformasi kepolisian agar hal serupa tak terulang.

Kok bisa ada polisi tidak mengetahui hukum? Tidak mengetahui kalau ada tuduhan tidak boleh bertindak seperti ini,”

tambah dia.

Tag:babinsabhabinkamtibmases gabuses sponssudrajat
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Keracunan MBG Terus Terjadi, JPPI Bongkar Ancaman Serius: Negara Bangun Budaya Impunitas
By Natania Longdong
Sejumlah siswa menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Desa Cot Kumbang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Aceh
1
Keyakinan Konsumen RI Merosot pada Juli 2026, Penghasilan dan Lapangan Kerja Disorot
By Anisa Aulia
Pelamar kerja melakukan wawancara secara tatap muka pada bursa kerja bertajuk Job Market Fair 2026 di BSCC Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Sumber: Antara Foto/Angga Palguna/YU)
2
40.759 Orang Keracunan MBG, Audit Nasional Mendesak: Keselamatan Anak Bukan Bahan Uji Coba!
By Natania Longdong
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (19/1/2026).
3
Denny Indrayana Gelar Sayembara ‘Buru’ Ijazah Asli SMA Gibran: Berhadiah Rp100 Juta
By Rahmat Tunny
Ilustrasi hadiah sayembara mencari ijazah Wakil Presiden Gibran. Rakabuming.
4
Polda Metro Jaya Panggil Bigmo Hari Ini, Dugaan Eksploitasi Anak dalam Promosi Vape Dibongkar
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi rokok elektronik atau vape.
5

BERITA LAINNYA

Ilustrasi cuaca cerah
Megapolitan

Prakiraan Cuaca Jakarta 11 Agustus 2026: Seluruh Wilayah Diprediksi Cerah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah DKI Jakarta…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
6 jam lalu
YouTuber Bigmo (memakai kemeja biru) hanya tertunduk usai diperiksa kepolisian dugaan kasus eksploitasi anak
Megapolitan

Dua Kali Berurusan dengan Hukum, Bigmo Ngaku Sangat Kapok

YouTuber Muhammad Jannah alias Bigmo mengaku kapok sudah dua kali berurusan dengan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteIvan OWRITE
By
Rahmat Baihaqi
Ivan Syahruna Lubis
7 jam lalu
Youtuber Bigmo (kemeja biru) saat memenuhi panggilan kepolisian untuk diperiksa kasus dugaan eksploitasi anak 
Megapolitan

Bigmo Tegaskan Promosi Liquid Bareng Anak Terjadi Spontan, Enggak Ada Niat Eksploitasi

YouTuber Muhammad Jannah alias Bigmo mengaku spontan saat live streaming hingga berujung…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteIvan OWRITE
By
Rahmat Baihaqi
Ivan Syahruna Lubis
8 jam lalu
YouTuber Bigmo (memakai kemeja biru) hanya tertunduk usai diperiksa kepolisian dugaan kasus eksploitasi anak
Megapolitan

Diperiksa Polisi, Bigmo Dicecar 40 Pertanyaan Terkait Promosi Vape Libatkan Anak

YouTuber Muhammad Jannah alias Bigmo rampung diperiksa penyelidik Polda Metro Jaya disodorkan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteIvan OWRITE
By
Rahmat Baihaqi
Ivan Syahruna Lubis
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up