Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) di Jakarta per April 2026 sebesar 2,12 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode tersebut tercatat di level 109,68.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto menyatakan bahwa, inflasi tahunan ini disebabkan oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran.
Menurut data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik di 2,35 persen, diikuti kelompok pendidikan 2,17 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,89 persen, serta pakaian dan alas kaki 1,79 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran tercatat naik 1,69 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi meningkat 1,61 persen, kesehatan 1,60 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,14 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,39 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,28 persen.
Inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada April 2026 tercatat sebesar 0,21 persen, sedangkan inflasi tahunan kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,12 persen.
IHK Jakarta sendiri mengalami kenaikan dari 107,40 pada April 2025 menjadi 109,68 pada April 2026.
Komoditas Pendorong Inflasi
Komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi y-on-y meliputi emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, minyak goreng, tarif ojek online roda dua, biaya pendidikan SD dan SMP, daging sapi, ayam goreng, serta tarif pulsa ponsel.
Beberapa komoditas lain seperti kopi bubuk, parfum, sewa rumah, dan upah asisten rumah tangga juga turut berkontribusi.
Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, telepon seluler, kentang, tahu mentah, serta produk kebersihan seperti deterjen cair, pembersih lantai, dan pengharum cucian.
Pada basis bulanan, inflasi terutama didorong oleh angkutan udara, beras, ayam goreng, minyak goreng, bensin, tarif kereta api, nasi dengan lauk, kopi bubuk, serta barang rumah tangga seperti kasur, lemari pakaian, dan laptop.
Adapun komoditas yang menahan laju inflasi m-to-m antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, serta berbagai sayuran seperti bayam, kangkung, dan kacang panjang,”
jelas Kadarmanto dalam keterangan resmi, pada 5 Mei 2026.
Kontribusi per Kelompok Pengeluaran
Secara keseluruhan, kontribusi inflasi y-on-y terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen, diikuti makanan, minuman, dan tembakau 0,45 persen, transportasi 0,22 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,17 persen, serta pendidikan 0,14 persen.
Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,58 persen,”
lanjutnya.
Kontribusi lebih kecil tercatat pada kelompok pakaian dan alas kaki 0,08 persen, perlengkapan rumah tangga 0,07 persen, perumahan 0,06 persen, kesehatan 0,05 persen, serta masing-masing 0,03 persen dari kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan serta rekreasi, olahraga, dan budaya.


