Pada akhirnya, semua aktivitas terganggu, dari aktivitas pendidikan, perekonomian, dan lain-lain, bahkan ada guru yang meninggal dan ada balita yang meninggal, banyak yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), sangat miris,”
ujar Satria.
Dia menceritakan, jarak pandang di sekitar kampusnya kian memburuk karena kabut asap yang semakin pekat.
Pada siang hari, Satria mengaku hanya bisa melihat sejauh kurang lebih dua hingga lima kilometer saja.
Tak Kunjung Reda
Lebih parahnya lagi, asap karhutla yang tak kunjung mereda turut mengancam paru-paru warga sekitar. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan tanpa ada kebijakan sistem belajar jarak jauh.
Untuk mahasiswa, sampai saat ini masih tetap masuk pada akhirnya mau menempuh pendidikan harus menerjang asap,”
ujarnya.
Untuk itu, Satria rela datang jauh-jauh dari Kalimantan datang untuk menyampaikan secara langsung kepada pemerintah melalui aksi demonstrasi ini.
Dia menyatakan, baik pemerintah daerah maupun pusat telah gagal memberikan perlindungan dan memenuhi hak warganya.
Kami berusaha di sini untuk menyuarakan atas keresahan dan hal yang dirasakan oleh masyarakat, terlebih di Kalimantan. Atas permasalahan yang masih belum tuntas sampai per hari ini, dan bagaimana respons dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menangani masalah ini ini,”
tutur Satria.
Mahasiswa asal Kalimantan itu turut memberikan kritikan pedas kepada pejabat kampung halamannya yang dinilai tidak memiliki hasil dalam menangani kebakaran.
Bahkan, kehadiran para pejabat tinggi negara yang mendatangi lokasi kejadian seakan menggugurkan kewajibannya saja. Di saat bersamaan, hutan terus terbakar dan meluas.
Untuk progres yang seharusnya membaik, tapi sampai per hari ini malah lebih buruk, Bagaimana mau presiden, mau wakil presiden, mau menteri yang sering ke sana, tapi per hari ini pun tidak ada perubahan sama sekali,”
keluh Satria.
Hal yang sama juga disuarakan Yusril (24) yang menuntut pemerintah segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.
Yusril menilai, pemerintah sudah tidak sanggup lagi menangani kebakaran sendirian dan membutuhkan banyak bantuan serta anggaran.
Sudah saatnya, dijadikan bencana nasional. Karena pemerintah yang berkali-kali bilang sanggup, sampai saat ini tidak padam juga, malah makin parah,”
kata Yusril.
Dia mendesak pemerintah tidak serta-merta melihat angka korban jiwa yang berjatuhan sekadar angka, melainkan menganggap serius dampak kebakaran hutan terhadap nyawa rakyatnya.
Nyatanya sampai hari ini, sudah berapa orang yang meninggal karena asap. Karena jalan tertutup asap, ataupun secara langsung karena menghirup asap beracun,”
tegasnya.