Mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, memberikan peringatan serius terkait wacana pengiriman pasukan Indonesia ke Jalur Gaza.
Menurutnya, langkah tersebut memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh dan membutuhkan persiapan matang. Dino menekankan bahwa sebelum mengambil keputusan, Indonesia harus memahami secara jelas mandat yang diberikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Masukannya dari saya, pelajari dengan detail apa mandat PBB dan bagaimana rules of engagement-nya,”
ujar Dino di Jakarta Selatan, Selasa, 25 November 2025.
Tujuan utamanya, sambung Dino, adalah memastikan pasukan Indonesia tidak terseret dalam bentrokan langsung di lapangan sebab peluangnya masih sangat tinggi.
Potensi Bentrok Besar Meski Ada Gencatan Senjata
Walaupun sudah ada resolusi Dewan Keamanan PBB dan kesepakatan gencatan senjata, Dino menilai potensi konflik tetap terbuka. Ia menyebut bahwa dinamika di Gaza bisa berubah sewaktu-waktu, bahkan ketika situasi terlihat tenang.
Salah satu poin dalam resolusi tersebut adalah pembentukan Board of Peace (BoP), badan transisi yang akan memimpin pemerintahan Gaza dan diketuai oleh Presiden AS Donald Trump.
BoP memiliki wewenang membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional, yang nantinya akan berkonsultasi dengan Mesir dan Israel sebelum diterjunkan. Dino mengingatkan bahwa bentrok dengan pihak mana pun termasuk Hamas adalah risiko yang harus benar-benar dihindari.
Itu bukan yang kita inginkan dan tidak akan menguntungkan TNI,”
tegasnya.
Perlu Skenario dan Pemetaan Risiko
Menurut Dino, sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik kembali memanas meski sudah disepakati gencatan senjata. Karena itu, Indonesia harus memiliki skenario lengkap tentang apa yang harus dilakukan jika situasi di lapangan berubah drastis.
Kalau terjadi eskalasi, posisi kita bagaimana? Itu harus dipetakan sejak awal,”
tambahnya.
Ia juga menilai, Indonesia memiliki keuntungan diplomatik karena relatif dipercaya oleh semua faksi di Palestina. Namun, hal ini tetap tidak menjamin situasi aman tanpa pemetaan strategi yang matang.
Indonesia telah berulang kali menyatakan kesiapannya menjadi bagian dari pasukan perdamaian di Gaza. TNI bahkan telah menyiapkan sejumlah nama calon komandan untuk menjalankan misi tersebut.
Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa langkah konkret masih harus menunggu keputusan pemerintah dan mandat resmi dari PBB.
Krisis Gaza Masih Panas
Dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak pernah surut. Negara ini secara konsisten mengecam agresi Israel, yang sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina.
Meski Israel dan Hamas sempat menyepakati gencatan senjata, pasukan Israel masih berulang kali melakukan pelanggaran dan menyerang wilayah Gaza.


