Masifnya gelombang media baru di era digital menghadirkan tantangan serius sekaligus peran strategis bagi dunia pers.
Di tengah arus informasi yang kian deras dan cepat, media arus utama (mainstream) justru dituntut untuk mengambil peran krusial sebagai ‘rumah penjernih’ informasi, bukan sekadar penyampai berita biasa.
Tuntutan ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dengan tema, “Media Baru Menuju Pers Sehat,” yang berlangsung di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, Senin, 15 Desember 2025.
Ketua Dewan Pakar SMSI, Yuddy Crisnadi, menilai pertumbuhan media baru, terutama media sosial, berlangsung sangat cepat dan memiliki daya pengaruh luar biasa dalam membentuk persepsi publik.
Yuddy memaparkan data, yang menunjukkan dominasi platform digital di Indonesia YouTube memimpin dengan 143 juta pengguna. Disusul Facebook dengan 122 juta pengguna, TikTok sebanyak 108 juta pengguna dan Instagram mencapai 103 juta pengguna.
Ini baru data Indonesia, belum dunia. Artinya, media baru punya peluang sekaligus kekuatan yang luar biasa dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap negara, bangsa, dan budayanya sendiri,”
Yuddy.
Menurutnya, kondisi ini menuntut perhatian serius, tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga penguatan etika dan integritas pers digital.
Ia menekankan pentingnya SMSI untuk mendefinisikan ulang konsep pers yang sehat di era digital, mencakup integritas, independensi, literasi publik, akses keadilan, hingga ekonomi media yang berkelanjutan.
Di sisi lain, wartawan senior Aiman Witjaksono menyoroti bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan maraknya konten manipulatif seperti deepfake justru membuat masyarakat semakin membutuhkan media yang kredibel dan dapat dipercaya.
Aiman mengungkapkan, berdasarkan data Nielsen 2024, konsumsi berita televisi mengalami peningkatan sekitar 5-12 persen sejak masa pandemi COVID-19.
Semakin banyak ketidakpastian akibat AI dan banjir informasi, masyarakat justru mencari kepastian. Di sinilah media mainstream dibutuhkan untuk mengklarifikasi isu, dari ketidakpastian menuju kepastian,”
Aiman.
Ia menegaskan, media arus utama tidak boleh kalah cepat dari media sosial. Responsivitas harus dipertahankan, namun tanpa mengorbankan akurasi dan prinsip keberimbangan.
Sekarang bukan zamannya lagi membungkam informasi. Tugas media adalah meluruskan dan mendudukkan persoalan,”
Aiman.
Koordinator Wartawan Parlemen, Ariawan, menambahkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah rendahnya literasi media di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia menilai banyak informasi dari media yang tidak jelas kredibilitasnya dengan mudah dipercaya hanya karena berbentuk tautan berita atau tangkapan layar judul.
Banyak media yang namanya tidak dikenal, bahkan menyerupai lembaga resmi, tapi isinya menyesatkan. Ini menjadi PR besar kita bersama untuk meningkatkan literasi media,”
Ariawan.
Ariawan juga menekankan perlunya adaptasi media mainstream terhadap perubahan pola konsumsi publik yang kini lebih menyukai konten visual dan video pendek.
Menurutnya, media yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal di tengah persaingan dengan kreator individu yang mampu mengelola banyak kanal informasi.
Dengan regulasi yang ketat, standar etik yang jelas, dan komitmen pada keberimbangan, media arus utama diharapkan tetap menjadi rujukan utama publik.
Posisi strategis ini memungkinkan pers arus utama untuk menjernihkan informasi di tengah banjirnya konten digital yang kerap kabur antara fakta dan opini.

