Presiden RI Prabowo Subianto, mengklaim bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik yang diberikan oleh siapa pun.
Namun, Prabowo juga mengingatkan agar kritik tersebut tidak berujung menjadi fitnah, karena perbuatan itu dilarang oleh semua agama.
Silakan koreksi, silakan kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah, saya yakin di agama Kristen begitu juga,”
kata Prabowo saat memberi sambutan dalam Perayaan Natal Nasional di Jakarta, dikutip Selasa, 6 Januari 2025.
Prabowo menyampaikan hal tersebut sebagai respons atas dinamika yang berkembang belakangan ini, terutama di ranah media sosial.
Ia menilai, media sosial seharusnya memiliki dampak positif, namun justru dimanfaatkan untuk menggiring opini publik tanpa bisa dibuktikan kebenarannya. Hal itu, lanjutnya, justru hanya memicu kegaduhan.
Ia juga menyoroti penilaian para pakar yang asal bicara, terutama terhadap kebijakannya selama memimpin Indonesia.
Menurut Prabowo, kebohongan justru menimbulkan perpecahan, kecurigaan, dan kebencian yang dapat merusak Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast,”
kelakarnya.
Lebih jauh Prabowo pun menegaskan, bahwa dirinya memilih untuk memaafkan pihak-pihak tersebut karena lebih mengutamakan persatuan dibandingkan perpecahan.
Ia pun merujuk pada ajaran dalam Alkitab yang menekankan pentingnya sikap saling mengampuni.
Di ajaran Nasrani harus memaafkan. Forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us. Jadi saya sebenernya selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan, saya ingin persatuan daripada perpecahan,”
pungkasnya.

