Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 10 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part II) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja
Nasional

(Part II) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Februari 2, 2026 11:18 am
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
6 bulan lalu
Share
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (tengah) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy (kiri) dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali (kanan) mengamati sejumlah murid yang menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (tengah) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy (kiri) dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali (kanan) mengamati sejumlah murid yang menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (8/1/2026). Dalam kunjungannya itu Kepala BGN Dadan Hindayana meninjau distribusi makanan program MBG pada hari pertama masuk sekolah usai libur. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom.
SHARE

Manajer Riset Strategis CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet, berpendapat pernyataan Bappenas menunjukkan “kekompakan kabinet” dalam membela program unggulan presiden. Namun, dari sisi substansi kebijakan, pernyataan itu muncul di momen tak tepat.

Daftar isi Konten
  • Dampak MBG dan Tenaga Kerja
  • Terburu-buru dan Banyak Masalah
  • Siapa Pembayar Makan Siang Gratis?

Pernyataan ini muncul pada momentum yang salah. Apalagi awal tahun ini pun MBG ini masih menemui masalah yang sama seperti tahun lalu, misalnya keracunan. Itu merupakan hal yang cukup serius dan perlu menjadi perhatian pemerintah,”

jelas Yusuf kepada owrite.

Kebijakan negara tidak boleh bersifat zero sum game—satu kebijakan dianggap penting dengan menafikan kebijakan lain, atau situasi dalam teori permainan dan ekonomi di mana keuntungan satu pihak seimbang tepat dengan kerugian pihak lain.

Padahal, lanjut Yusuf, kebijakan bisa berjalan beriringan, bersama, dan sama penting. Mempertentangkan keduanya adalah langkah yang kurang pas.

Menyoroti data ketenagakerjaan, Yusuf membedah mitos elastisitas pertumbuhan ekonomi. Asumsi lama bahwa setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 500 ribu tenaga kerja, menurutnya sudah tidak relevan secara kualitas.

Struktur ekonomi Indonesia berubah. Lebih banyak sektor jasa, digital, dan kegiatan yang tidak selalu padat karya. Karena itu hubungan antara pertumbuhan dan penciptaan kerja tidak lagi mekanis,”

ujar dia.

Yusuf melanjutkan, data beberapa tahun terakhir justru menunjukkan bahwa secara agregat 1 persen pertumbuhan PDB bisa berkorelasi dengan sekitar 800 ribu sampai 1 juta tambahan pekerja.

(Part I) Perut Kenyang, Dompet Melompong: “Kengawuran” Pilih Makan Gratis daripada Lapangan Kerja

Namun ini perlu dibaca kritis. Elastisitas yang tampak tinggi tersebut sebagian besar datang dari sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah.

Artinya, ekonomi memang menyerap tenaga kerja, tetapi tidak selalu menciptakan pekerjaan formal yang stabil, bergaji baik, dan berkelanjutan. Jadi kualitas penyerapan tidak otomatis sebaik kuantitasnya,”

tutur dia.

Di sisi lain, elastisitas juga sangat tergantung pada sumber pertumbuhan. Bila pertumbuhan ditopang manufaktur dan investasi padat karya, serapan kerja biasanya kuat.

Tetapi jika pertumbuhan lebih banyak berasal dari sektor padat modal, teknologi, atau komoditas, maka kenaikan PDB bisa besar, sementara tambahan tenaga kerja relatif kecil. Inilah penyebab pertumbuhan tinggi tidak melulu identik dengan penurunan pengangguran yang signifikan.

Dampak MBG dan Tenaga Kerja

Untuk MBG, dampaknya terhadap tenaga kerja juga perlu dilihat secara realistis. MBG bukan investasi produktif seperti pabrik atau proyek industri, sehingga ia tidak menciptakan kapasitas produksi baru jangka panjang.

Namun MBG tetap menghasilkan serapan kerja operasional: dapur, logistik, distribusi, pemasok bahan pangan lokal, tenaga masak, hingga administrasi.

Secara kasar, setiap unit layanan MBG bisa menyerap puluhan orang, sehingga secara nasional potensinya bisa ratusan ribu hingga lebih dari satu juta pekerjaan.

Meski begitu, karakter pekerjaan dari MBG cenderung padat tenaga kerja mikro, berupah relatif rendah, dan banyak yang semi-formal atau informal.

Efeknya lebih kuat sebagai bantalan sosial dan penggerak ekonomi lokal, bukan sebagai mesin transformasi struktural.

MBG membantu perputaran uang di desa dan kota kecil, tetapi tidak otomatis menaikkan produktivitas nasional seperti halnya investasi industri atau teknologi,”

ucap Yusuf.

Terburu-buru dan Banyak Masalah

Selanjutnya, Dari sisi implementasi MBG, proyek ini dijalankan dengan desain yang terburu-buru, tanpa pilot project yang memadai, dan dipukul rata (one size fits all).

Hal ini memicu risiko fiskal dan inflasi. Anomali anggaran MBG yang terus membengkak di tahun 2026, bahkan mengambil porsi anggaran pendidikan, padahal evaluasi tahun sebelumnya menunjukkan banyak masalah hingga pengembalian anggaran.

Selain itu, ketidaksiapan sisi suplai (pertanian/pangan) menghadapi lonjakan permintaan bahan baku MBG berpotensi memicu inflasi pangan yang dapat mencekik daya beli masyarakat.

Alur distribusi logistik dari pangan menopang program MBG tidak dirancang dengan baik. Dalam kondisi tertentu, itu bisa memicu inflasi,”

ucap Yusuf.

Siapa Pembayar Makan Siang Gratis?

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta, mengingatkan pemerintah ihwal siklus ekonomi dasar yang tampaknya dilupakan.

Menurutnya, program MBG dan industrialisasi tidak bisa dipertentangkan (apple to apple), karena keduanya memiliki hubungan sebab-akibat yang vital dalam struktur APBN.

Redma menegaskan, program MBG memerlukan biaya besar yang bersumber dari pajak. Sementara itu, penyumbang pajak terbesar adalah sektor industri manufaktur.

Jika industri dibiarkan mati demi memprioritaskan MBG, negara justru akan kehilangan kemampuan finansial untuk membiayai program makan gratis tersebut.

Dominasi APBN paling besar itu dari pajak. Pajak paling besar dihasilkan dari industri manufaktur. Sedangkan MBG itu butuh subsidi dari pajak. Jadi, bagaimana MBG bisa jalan dengan baik kalau industri tutup, tak bisa menyerap tenaga kerja? Jadi tidak bisa bayar pajak,”

ujar Redma kepada owrite.

MBG memiliki tujuan mulia untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia agar lebih kompetitif. Ia mempertanyakan nasib sumber daya manusia berkualitas tersebut jika sektor manufaktur terus mengalami deindustrialisasi.

Walaupun tenaga kerja kita dari hasil MBG bagus-bagus, kalau industrinya banyak yang collapse (bangkrut), tetap tidak akan terserap. Jadi dua hal ini harus berjalan beriringan,”

ujar Redma.

Masalah fundamental ketenagakerjaan Indonesia saat ini, yaitu kemampuan industri menyerap tenaga kerja baru jauh di bawah pertumbuhan angkatan kerja baru.

Artinya perlu lapangan kerja yang lebih massif, sementara lapangan kerja masif butuh industri yang sehat. Industri sehat akan menyerap tenaga kerja dan bakal berdampak kepada pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi target presiden demi mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, saat ini kontribusi industri manufaktur terhadap PDB hanya berkisar 19 persen.

Kalau mau pertumbuhan ekonomi 8 persen, kontribusi manufaktur harus 25 persen. Sekarang industri (nasional) cuma tumbuh 5 sekian persen. Padahal kalau mau ekonomi tumbuh 8 persen, manufaktur harus tumbuh di atas 10 persen,”

papar Redma.

Pertumbuhan stagnan di angka 5 persen, menurut Redma, disebabkan oleh investasi yang tidak masuk sesuai target. Investor enggan menanamkan modal bukan karena tidak ada infrastruktur, melainkan karena ketiadaan pasar.

Hambatan utama investasi di sektor tekstil dan manufaktur lainnya ialah kebijakan pemerintah yang membiarkan pasar domestik dibanjiri produk impor murah, dumping, dan ilegal.

Tag:gibran rakabuming rakaKepala Bappenasmakan bergizi gratisMBGMenteri PPNPrabowo SubiantoPresidenRachmat PambudySpillwakil presiden
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Keracunan MBG Terus Terjadi, JPPI Bongkar Ancaman Serius: Negara Bangun Budaya Impunitas
By Natania Longdong
Sejumlah siswa menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di SMA Negeri 1 Desa Cot Kumbang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Aceh
1
Keyakinan Konsumen RI Merosot pada Juli 2026, Penghasilan dan Lapangan Kerja Disorot
By Anisa Aulia
Pelamar kerja melakukan wawancara secara tatap muka pada bursa kerja bertajuk Job Market Fair 2026 di BSCC Dome, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Sumber: Antara Foto/Angga Palguna/YU)
2
Denny Indrayana Gelar Sayembara ‘Buru’ Ijazah Asli SMA Gibran: Berhadiah Rp100 Juta
By Rahmat Tunny
Ilustrasi hadiah sayembara mencari ijazah Wakil Presiden Gibran. Rakabuming.
3
40.759 Orang Keracunan MBG, Audit Nasional Mendesak: Keselamatan Anak Bukan Bahan Uji Coba!
By Natania Longdong
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (19/1/2026).
4
Polda Metro Jaya Panggil Bigmo Hari Ini, Dugaan Eksploitasi Anak dalam Promosi Vape Dibongkar
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi rokok elektronik atau vape.
5

BERITA LAINNYA

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam acara pertemuan dengan periset dan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Nasional

Unggah Pidato Prabowo soal Nuklir Iran Ditangkap, Pakar: Gambarkan Wajah Rezim Otoriter

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Prof. Abdul Fickar Hadjar, mengecam penanganan hukum…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
32 menit lalu
Petugas gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Nasional

Karhutla Mengganas di Kalimantan dan Bromo, Water Bombing hingga Modifikasi Cuaca Disiapkan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
1 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (ketiga kanan), Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kiri), Ketua DPR Puan Maharani (kedua kanan), Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin (kanan), dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (kiri) menyaksikan defile dalam upacara HUT Ke-80 Bhayangkara di Pusat Latihan Brimob Polri, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).
Nasional

War Tiket Upacara HUT ke-81 RI di Istana Bikin Heboh, 336 Ribu Orang Berebut Ribuan Slot

Antusiasme masyarakat untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka,…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
2 jam lalu
Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin.
Nasional

Misteri Kematian Sutrimo Masuk Babak Baru, Polisi Bakal Bongkar Makam untuk Cari Bukti

Polda Metro Jaya berencana melakukan pembongkaran kembali makam atau ekshumasi terhadap Sutrimo,…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteHardani Triyoga
By
Rahmat Baihaqi
Hardani Triyoga
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up