Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mendorong sinkronisasi kebijakan transportasi secara holistik untuk penyelenggaraan Angkutan Lebaran Tahun 2026.
Meski jumlah pergerakan ini diprediksi melandai dibandingkan tahun sebelumnya, perjalanan masyarakat tetap dibayang-bayangi berbagai risiko seperti kemacetan lalu lintas, kepadatan di simpul transportasi, kecelakaan, hingga dampak cuaca ekstrem.
Maka, MTI menegaskan bahwa kebijakan yang diterapkan tidak boleh hanya secara parsial memberikan “karpet merah” bagi kendaraan pribadi, melainkan harus dirancang secara sinkron untuk mengakomodasi angkutan umum dan logistik, serta mengendalikan penggunaan kendaraan roda dua.
Melalui pernyataan tertulis yang diterima pada Senin, 9 Maret 2026, MTI memaparkan tujuh rekomendasi utama untuk mengoptimalkan penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026:
- Sistem informasi dan komando tunggal: Kementerian Perhubungan didorong untuk menjadi pemegang komando utama dan segera menghadirkan Sistem Informasi Terpadu Angkutan Lebaran Nasional yang bersifat aktual (real-time);
- Pembatasan pemudik sepeda motor: MTI merekomendasikan pembatasan penggunaan sepeda motor untuk mudik dan pelarangan membawa anak-anak saat bersepeda motor, yang harus dibarengi dengan pembenahan angkutan umum di tingkat daerah;
- Operasional angkutan barang berkeadilan: Diperlukan strategi pembatasan operasional angkutan barang yang selektif serta pengoptimalan peralihan ke moda alternatif seperti kereta api, kapal laut, dan pesawat udara;
- Peningkatan layanan penyeberangan: Guna menghindari penumpukan, MTI menyarankan pembagian layanan di pelabuhan berdasarkan jenis kendaraan, misalnya Pelabuhan Merak khusus mobil dan bus, Ciwandan untuk sepeda motor, dan Bojanegara untuk angkutan truk;
- Pembenahan prasarana Jalan: Penanganan kerusakan jalan harus dimaksimalkan sebelum puncak arus mudik, dengan perhatian khusus pada jalur strategis seperti Pantura dan tol Trans Jawa, serta optimalisasi Jalur Lintas Selatan;
- Manajemen kepadatan lalu lintas: Penggunaan sistem lawan arah (contra flow) dinilai lebih baik ketimbang satu arah (one way) karena memberikan prioritas akses bagi bus angkutan umum, diiringi dengan manajemen waktu dan volume kendaraan di tempat istirahat (rest area);
- Mitigasi kecelakaan dan bencana: Diseminasi informasi cuaca, peringatan dini bencana, serta simulasi penanganan kondisi darurat oleh operator transportasi publik harus dilakukan secara intensif dan berkala.
MTI juga mengingatkan mudik bukan sekadar peristiwa mobilitas tahunan, namun merupakan fenomena sosial dan ekonomi yang memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor. Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan perlu melakukan pemetaan data yang lebih komprehensif perihal alasan melakukan mudik, pola perjalanan yang dilakukan, serta tren perubahan perilaku perjalanan.
Data tersebut sangat penting guna merumuskan kebijakan transportasi yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam penyediaan infrastruktur, pengembangan sistem transportasi, serta dukungan pembiayaan bagi sektor transportasi dan pariwisata.
Data itu pun dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi yang muncul selama periode mudik, seperti pengembangan sektor kuliner, perhotelan, perdagangan lokal, serta berbagai usaha kecil dan menengah di daerah tujuan mudik.
Ketua Umum MTI Haris Muhammadun memberikan penekanan khusus terkait implementasi kebijakan di lapangan. Ia menyadari bahwa pelaksanaan seluruh rekomendasi mungkin menghadapi tantangan.
Jika beberapa hal rekomendasi tersebut ternyata tidak bisa dijalankan, maka pengawasan dan pengendalian oleh aparat dan pihak terkait mesti ditingkatkan. Sehingga dapat memastikan layanan angkutan lebaran dapat berjalan dengan baik,”
kata Haris, kepada owrite, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia juga mengimbau kepada para calon pemudik agar selalu memprioritaskan keamanan selama perjalanan. Dan masyarakat, diharapkan agar selalu berhati-hati, waspada dan senantiasa mengutamakan keselamatan.
Prediksi
Merujuk data Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, 143,9 juta orang bakal mudik tahun ini. Angka ini turun 1,7 persen dibanding periode tahun lalu.
Berdasar hasil Survei Angkutan Lebaran 2026, Jawa Barat diperkirakan menjadi provinsi asal pemudik terbesar dengan total 30,97 juta orang atau 21,52 persen dari jumlah pergerakan nasional. Sementara, Jawa Tengah menjadi daerah tujuan favorit, dengan proyeksi 38,71 juta orang atau 26,90 persen dari total pemudik.
Untuk mendukung kelancaran perjalanan, kebijakan Work From Anywhere (WFA) didorong agar kepadatan bisa terurai dan perjalanan lebih aman serta nyaman. Berbagai sarana transportasi juga telah disiapkan guna mudik, yakni 31.345 bus, 2.683 kereta, 392 pesawat, 829 kapal laut, hingga 255 kapal penyeberangan.

